RSS

Berbagi Pengalaman Jualan Buku via Online #1

Sudah hampir tiga tahun saya berkecimpung di dunia jualan buku via online. Omzet* yang saya raih per bulan mencapai Rp. 40 juta. Profit bersih sekitar 10%. Pencapaian saya saat ini tentu tidak instan, namun melalui proses panjang dan perjuangan yang tak kenal lelah. Sepak terjang saya sebagi pelaku bisnis buku online telah diliput Net TV, Kedaulatan Rakyat, Tribun Jogja, portal brilio.net, wajahkota.com, DLL. Saya akan berbagi pengalaman selama berjualan buku... dan nanti akan berbagi tips sukses jualan buku lewat sosial media (akan saya psting di blog).
Oktober 2012 saya sudah mulai jualan buku via online, lebih khusus lagi via Facebook. Saat itu saya kerja sebagai loper koran. Kebetulan agen koran saya juga punya toko buku. Karena suka baca, saya pun tertarik dengan buku-buku yang tiap hari aku lihat di rak atau display toko. Kadang saya menyempatkan waktu untuk melihat dan mengamati buku-buku. Buku yang sekiranya menarik, saya potret cover-nya untuk kemudian saya tawarkan kepada teman-teman lewat FB.
            Kamera HP-ku waktu itu kurang bagus (kalau ga salah HP Smartfren harga 250.000). Wajar, promosi yang saya lakukan masih sangat jarang dapat respon. Pernah pula foto cover buku itu hanya saya download, sinopsis juga saya copy-paste, namun hasil promosi juga belum membuahkan hasil. Media saya untuk promosi waktu itu lewat online di HP dan warnet. Pernah juga promosi buku lewat SMS dan kirim ke banyak nomor yang ada di kontak. Saat itu saya sangat telaten melakukan promosi buku. Perkara yang minat beli amat sangat sedikit: tidak saya hiraukan. Sebab saya menjalani aktivitas ini atas dasar suka, bukan semata cari keuntungan.
            Saya melakukan promosi buku dengan upload foto (kadang tag beberapa teman) lalu saya share di banyak grup jual beli, paling sering di grup “Jual Beli Cilacap” (karena saya tinggal di Cilacap waktu itu). Saya benar-benar masih ‘meraba-raba’ soal jualan buku di FB. Saya yang suka baca dan menulis, saya bergabung juga di grup-grup FB komunitas penulis. Kadang saya promosi di grup-grup itu. Saya gabung di grup “Jual Buku Seni dan Budaya”, saya promosi di situ juga. Setelah saya cukup gencar berpromosi, ada beberapa orang yang tanya-tanya buku. Sebagian ada yang fix beli, lalu mereka transfer, ada pula yang bayar saat ketemuan (COD).
            Saat jadi mahasiswa baru di UIN Suka (Agustus 2013) saya juga masih berjualan buku via online. Kadang online di HP bututku, di warnet, di laptop teman (pinjam), bahkan di kompter perpustakaan kampus. Ribet memang, namun saya melakukannya dengan telaten dan penuh kesabaran diirangi rasa optimistis. Saya mempromosikan banyak genre buku: novel, agama, motivasi, bisnis, DLL. Saya juga mempromosikan buku-buku UN SMA, buku SBMPTN. Untuk mempromosikan buku UN SMA dan SBMPTN tentu harus bergabung ke banyak Grup FB yang berkaitan dengan itu. Saya mempromosikan buku ini atas dasar pengalaman saya lolos SBMPTN juga karena belajar lewat buku-buku Soal-Soal SBMPTN. Selain itu, ada niat saya ‘sedikit’ membantu siswa-siswa yang ingin belajar dan ingin lolos masuk PTN namun tidak punya uang untuk ikut Bimbel.
            Saya juga mulai bergabung ke banyak grup FB yang lebih tertarget untuk jualan buku, seperti “Jual Beli Buku Online”, “Jual Beli Buku-Buku Langka”, “Bursa Buku, Komik dan Novel”, DLL. Di Jogja ada banyak toko buku, hampir tiap hari saya bermain ke toko buku. Enaknya di Jogja (daripada di Cilacap), dekat dengan penerbit-penerbit, ada banyak toko buku, bukunya lebih beragam, lebih update dan diskonnya lebih besar. Tiap main ke toko buku aku potret dengan HP-ku yang resolusi kameranya rendah (jelek). Kadang, saya siasati dengan pinjam kamera digital teman, nanti dipindah ke flashdisk-ku. Kadang buku itu (yang pasti/sudah laku) saya bawa ke kampus, saya minta teman untuk memfotokan dan meminta dia meng-upoad-kan ke FB.
            Semakin hari pelanggan buku semakin bertambah. Saat semester satu saya mendapat tiga reseller (kini, saat semeter 6, sudah punya belasan reseller). Semester satu saya ambil buku-buku UN SMA, SBMPTN, SIMAK-UI & UM UGM, TPA, Seleksi TNI-POLRI, STAN-STIS di penerbit langsung. Jarak dengan kampusku cukup jauh, jadi untuk ke sana saya harus pinjam motor teman. Namun pernah suatu ketika saya nekat berangkat dengan sepeda onta, sebab pinjam motor ke mana-mana tidak dapat.
            Di Jogja sering juga ada acara pameran buku. Saya kerap juga mendatangi pameran buku. Di pameran biasanya ada buku-buku bagus, langka, dan buku obral. Saya datang ke pameran, saya pilih-pilih (beli sedikit dan banyak foto-foto) untuk dipromosikan di FB. Biasanya buku-buku bagus dari pameran saya jual juga dengan harga yang relatif murah sehingga ini akan mendatangkan pelanggan-pelannggan baru (sebgian dari mereka nantinya menjadi pelanggan loyal).
            Saat semester dua, saya bisa membeli HP android dan laptop. Tentu ini karena hasil keuntungan jualan buku yang lumayan. Saya telah melewati masa-masa promosi buku sampai ribuan kali namun lebih banyak diabaikan orang. Kini, tanpa promosi pun, tiap hari selalu ada orang yang tanya dan pesan buku. Kini, dalam sebulan saya bisa menjual buku mencapai lebih dari 1.000 eksemplar. Bahkan, saya telah berhasil mengirim buku ke Singapura, Taiwan dan Hongkong.
            Saat semester tiga, baru media promosi saya merambah ke BBM. Semester lima merambah ke Instagram (Line, BukaLapak dan Tokopedia belum saya coba sama sekali). Kedua media ini (BBM dan Instagram) juga lumayan banyak menghasilkan closing (penjualan).
            Saat semester tiga, saya mendapat beberapa reseller yang sangat produktif menjual buku. Salah satunya M, dia orang Makassar. Dalam sehari dia bisa laku 10-15 buku. Setelah saya tanya, dia menjawab promosi buku yang dia lakukan foksunya di Twitter dan Line. Jualannya bisa laris karena dia punya follower ratusan ribu. Postingan-postingannya ‘beraroma’ sastra dan bagus, maka banyak orang yang tertarik dan mengikutinya. Manakala dia membuat postingan promosi buku, responnya pun sangat luar biasa. Pelanggan-pelanggannya yang pesan buku dioper ke saya, saya yang bagian pengiriman. Saya amati dia juga melakukan promosi di website dan Fanspage FB. Dalam pesannya di WA, dia mengucapkan terima kasih kepada saya bahwa dengan kerja sama dengan saya dia telah berhasil membeli dua HP android.
            Lewat jualan buku ini, alhamdulillah, saya bisa membiayai kuliah dan biaya hidup sehari-hari di Jogja. Saya juga bisa ‘sedikit’ membantu orangtua dan membiayi sekolah adik saya di SMA. Saya bisa juga membelikan buku-buku bacaan/pelajaran untuk empat adik saya (dua adik lagi jarang saya belikan buku karena dia sudah kerja). Kadang saya juga menghadiahi buku-buku untuk keponakan-keponakan, teman-teman, adik-adik di TPA , di Pondok Pesantren dan adik-adik di Panti Asuhan. (bersambung).
***

*Omzet, dalam KBBI berarti jumlah uang hasil penjualan barang (dagangan) tertentu selama suatu masa.

Misalnya, dalam seminggu Anda menjual 100 barang seharga 50.000, artinya omzet Anda seminggu 5.000.000.

Harapan dan Konsekuensi Cinta

Maafkanlah aku yang telah mencintaimu. Bila ini lancang; bilanglah. Aku akan memanajemen ulang sikap dan perasaanku. Bukan berarti aku akan berbalik membencimu. Setiap manusia sudah semestinya saling mencintai. Namun semua ada batasannya. Aku mencintaimu sebatas sahabat bila tak boleh lebih mencintai sampai tingkat 'kita saling memiliki'. Ada sepotong kalimat yang berbisik dari bilik hatiku, "Aku tak bisa membohongi diri sendiri bahwa hatiku telah memilihmu." Ada yang menyahut, "Ah, pernyataan tadi sepertinya jujur. Namun hati itu selalu mudah goyah. Hati mudah diombang-ambingkan oleh situasi. Apakah keyakinanmu sudah benar? Atau nanti pernyataan hatimu bisa menjadi kadaluarsa?"

Ya, aku memang berharap. Namun harapan yang tak bersambut kerap menorehkan kecewa. Karena soal klasik ini, aku siap untuk tidak kecewa. Aku berharap, namun tidak memaksa. Aku mencintaimu dengan istimewa. Aku pun berharap kau memiliki rasa yang sama. Bila tidak, aku tak memaksa, aku tak kecewa. Aku selalu berusaha ikhlas menyikapi problema hidup ini. Pada hati yang ikhlas ada ketenangan, kedamaian dan kebahagian yang memukau.

Kau bahagia dengan pilihanmu, aku rela. Aku tak boleh iri. Aku tak kan membenci keputusanmu yang wajar. Membenci sama saja menyakiti diri sendiri. Berusaha merusak harmonisasi kehidupanmu berarti aku sedang merusak hidupku—yang sebenarnya bisa berjalan lebih indah. Kalaupun wajar membenci, tak kan kulakukan. Membenci seperti halnya mengiris-iris hati sendiri. Terluka dan sakit sendiri sementara yang dibenci tak merasakan. Aku mencintaimu, meski kau pernah tahu(?) Aku tak peduli. Biarkan alam-semesta yang membahasakan perasaanku padamu, biarkan ia yang mengabarkan pesan hatiku. Ia pasti jujur. Ia pasti bisa lebih dipercaya dan meyakinkan dari kata-kataku.
***


Jogja, 26-27 Agustus 2014

KATALOG BUKU DISKON BESAR

Dear Pelanggan yang baik hati…

Semoga kabarmu sedang baik-baik saja dan semoga hari ini dan esok dapat rezeki yang berlimpah dan berkah. Semoga sebagian rezekinya itu bisa buat beli buku-buku terbaik dengan harga harga yang murah. Hehe.
Pada hari-hari biasa, saya biasa memberikan diskon 10%-20%. Nah, pada kesempatan kali ini, saya akan memberikan DISKON BESAR, yakni 20%-30%. Selain memberikan DISKON BESAR, saya juga akan mencarikan ongkos kirim yang paling murah. Sebagai contoh, kemarin Sabtu (26/12/15), saya kirim paket buku seberat 10 Kg ke Tuban (dari Yogyakarta), ongkos kirim hanya Rp. 55.000, via paket pos. Sabtu kirim, Senin besoknya langsung sampai.
Dalam katalog buku ini tercantum harga normalnya. Misal harga normal novel “Hujan Bulan Juni” karya Sapardi Djoko Damono Rp. 50.000, nanti Anda cukup bayar Rp. 37.500 (Rp 50.000 - 25%). Katalog diurutkan berdasarkan abjad NAMA PENULIS.
Katalog ini memuat buku genre Novel, Sastra, Agama, Motivasi, Binis, Geografi, Komik, dan lain-lain. Harga dalam katalog adalah harga normal. Jika nanti Anda membeli akan mendapat harga dalam katalog dikurangi diskon 20-30%. Penerbit Diva Press, UGM Pres, Qishty Press, Mitra Pustaka, Pustaka Pelajar dapat diskon 25%-30%.
~Harga 49.999 ke bawah diskon 25%
~Harga 50.000 ke atas diskon 30%
Penerbit Gramedia, Republika, Pro U Media, Narasi, Mizan, Serambi, Bentang, Asma Nadia Publishing, dll diskon 20%-25%
~Harga 49.999 ke bawah diskon 20%
~Harga 50.000 ke atas diskon 25%

Catatan: 1. Pembayaran maksimal tanggal 3 Januari 2016
2. Pengiriman mulai tanggal 2 Januari 2016
3. Untuk buku-buku tertentu stok hanya sedikit, nanti kami infokan juga judul-judul buku yang Anda pesan masih tersedia atau tidak.
4. Selain menyampaikan judul-judul buku yang Anda pesan, saya minta dikirimi juga nama, alamat lengkap dan no HP serta Foto Struk bukti transfer.
5. Kontak saya bisa via WA 089615671902 atau BBM 579887DF
6. Ada beberapa judul yang tidak termuat dalam katalog, jadi Anda boleh tanya saja bila mencari judul lain (asal buku baru dan dari penerbit besar kemungkinan stok tersedia)
Salam Indah. J

Silakan lihat sebanyak mungkin buku best seller di katalog ini (diurutkan berdasarkan NAMA PENULIS)
https://excel.office.live.com/x/ExcelView.aspx…

Tag: Buku Murah # Buku Paling Murah # Buku Obral # Buku Best Seller # Buku Bagus # Promo Buku Menarik # Buku Recomended # Buku Terbaik

Penyelenggara event: Rindu Buku (Amin Sahri)

Angka 13 dan Tiket Bioskop

“Orang-orang yang jatuh cinta terkadang terbelenggu oleh ilusi yang diciptakan oleh dirinya sendiri. Ia tak kuasa lagi membedakan mana yang benar-benar nyata, mana yang hasil kreasi hatinya yang sedang memendam rindu. Kejadian-kejadian kecil, cukup sudah untuk membuatnya senang. Merasa seolah-olah itu kabar baik. Padahal saat itu ia tahu kalau itu hanya bualan perasaannya, maka saat itulah hatinya akan hancur berkeping-keping. Patah hati!” (Dalam cerpen ‘Berjuta Rasanya’, Tere Liye).
***

Selain pernah membaca buku Berjuta Rasanya, aku juga pernah membaca buku 13 Wasiat Terlarang. Dua buku yang menarik dan berbeda 'aliran'. Selepas itu, aku mulai menepis mitos angka 13 yang dibenci sebagian orang. Angka 13 bisa jadi sebuah keberuntungan, tergantung kita saja yang memaknainya.

Lalu, takdir baik beberapa kali mempertemukanku pada angka 13. Kuliah di UIN Suka itu takdir baikku. Aku ada upaya kuliah di tahun 2012, namun belum berhasil. Ternyata, aku berjodoh dengan UIN Suka pada tahun berikutnya, 2013.

Lalu, semestinya aku ikut event Kampus Fiksi angkatan 14. Entah kenapa, takdir atau skenario Tuhan membuatku masuk ke angkatan 13. 13 yang konon adalah angka sial tak terbukti padaku. Aku malah beruntung. Salah satunya mengenal seorang perempuan multitalenta yang sekaligus ramah dan rendah hati. Kebetulan namanya seperti namamu. Ini bukan berarti aku jatuh cinta padanya. Namun, sekadar kagum dan diam-diam aku belajar padanya. Belajar dari cara dia bersikap. Belajar dari pemikiran dan hal-hal yang melekat padanya. Mungkin dia tidak tahu kalau dia telah membuatku terinspirasi.

Lalu, Selasa kemarin kita nonton film di Sinema 21 Amplaz. Sudah terlambat 13 menitan kita baru antri tiket. Aku menyerahkan sepenuhnya padamu untuk memilih tempat duduk. Lalu kita sepakat memilih sepaket tempat duduk di tengah yang memang masih kosong, strategis pula. Aku duduk di kursi F 14, apakah jodohku di F 13, atau pergi ke mana? Kau duduk di F 13 dengan rileks dan memandang ke depan dengan wajah yang indah.

Kita ketinggalan jalan cerita film sekira 20 menitan. Aku senang berada di sampingmu, lebih senang lagi karena kamu sangat menikmati film ini. Usai nonton, kita jalan pulang sembari bercerita dan berkomentar soal film yang baru selesai kita tonton. "Terima kasih ya, Amri. Filmnya bagus banget. Sangat menginspirasi. Aku gak mau ketinggalan satu adegan pun," ucapmu. Aku mengangguk dan senang melihat senyummu yang mengembang. Itu adalah senyum yang berharga dan bermakna.

Oya, terakhir kita nonton bersama juga di tempat ini, pada dua tahun yang lalu. Aku sebenarnya tipe orang yang tidak terlalu antusias untuk nonton film di bioskop. Kalau aku mau main ke tempat mewah, kadang aku bertanya pada diriku sendiri, "Ayah-ibuku sedang apa yah di rumah? Apakah mereka cemas dan terburu-buru karena ada pekerjaan menjahit yang belum selesai. Adik-adikku sedang apa yah? Apakah mereka punya uang buat beli jajan?".

De, kau tahu kenapa aku mau mentraktirmu nonton film ini? Sebab, aku yakin kau sangat suka film ini sebagaimana dulu kau antusias untuk menonton film "99 Cahaya di Langit Eropa". Aku juga tertarik menyaksikan film ini karena sudah dua kali mengikuti screening-nya di GSP UGM dan Auditorium UNY. Saat di UGM, bahkan aku dapat doorprize novel "Bulan Terbelah di Langit Amerika" dan diajak berfoto bersama penulis dan pemaran utama filmnya. Saat di UNY, aku ikut acara workhshop kepenulisan yang dinarasumberi Hanum Salsabila Rais. Tiket masuk acara tersebut aku diberi gratis oleh Muza. Maka aku merasa 'tega' bila tak sampai menonton film ini. Aku malas bila berangkat nonton sendiri. Aku butuh teman. Selain itu, aku perlu berbagi kebaikan sebab sedari kemarin aku telah dapat banyak 'keberuntungan'. Kenapa tak ajak Muza? Aku lihat dia sedang sibuk. Kapan-kapan lah, kalau memungkinan kita nonton bertiga...


Baca Buku Jelajahi Dunia

Aku meyakini, para pecinta buku sejati, pasti ia memiliki kecerdasan dan hidupnya dihisai dengan keajaiban. Pecinta buku bisa melihat dunia yang luas sebelum ia menjejakkan kaki di negeri-negeri yang beragam budaya.

Pecinta buku selalu punya cara kreatif, semangat yang tinggi dan keoptimisan dalam mengejar cita-citanya. Pecinta buku, adalah from zero to hero.

Seperti satu kawanku ini, sebut saja namanya Ardan. Ia ini pecinta buku sejati. Wajarlah ia cerdas, kuliahnya juga dapat beasiswa. Meski anak desa (katanya), tapi ia punya cita-cita keliling dunia. Bukankah keliling dunia bagian dari membaca ayat-ayat Tuhan? Dalam perjalanannya selalu terdapat pengalaman dan hikmah yang luar biasa, kadang sangat menyentuh hati.

Ia bukan anak orang kaya yang bisa gampang minta uang orangtua. Cita-citanya juga bukan hal yang gampang. Namun ia yakini dan perjuangkan. Ia menabung rupiah demi rupiah. Akhirnya terkumpullah 2,4 juta. Ia terbang dari Jogja. Singgah di Batam, lalu menuju Singapura, Malaysia dan Thailand.

Ia berangkat sendiri dengan keberanian dan tekad yang kuat. Ia siap dihadapai apapun rintangan dan tantangan yang ada di negera-negara baru yang pertama kali ia kunjungi. Banyak pengalaman-pengalaman seru dan menarik yang telah ia kisahkan di wall FB nya.

Yang paling menarik menurutku adalah kisahnya ia saat di Thailand Selatan (Patani). Di sana ia seperti berjumpa dengan saudara-saudaranya sendiri. Orang yang sangat ramah, sangat baik, dan memperlakukan tamu seperti saudara sendiri.

2,4 juta bisa untuk keliling satu minggu ke 3 negara. Sangat keren! Tentu ada trik-trik, "keajaiban" dan pertolongan Tuhan yang turut menyertai dirinya.

Ia bukan orang kaya akan materi, namun ia kaya hati. Ia selalu merasa cukup, merasa bersyukur. Dan dalam kondisi pas-pasan (menurutku) namun ia berani berbagi kepada orang lain. Di sinilah "the miracle of giving" bekerja. Niat baik yang ia canangkan, sedekah yang ia lakukan, pengorbanan dan perjuangan yang ia laksanakan benar-benar menghasilkan buah yang manis. Hal-hal positif itu menarik keajaiban demi keajaiban.

Aku sebenarnya ingin titip dua nama manusia agar ia pampang di luar negeri. Namun aku sungkan, jadilah aku titip nama Rindu Buku. Sebuah pesan universal. Ini menyalami semua manusia yang suka buku. Ini salam untuk semua pecinta buku. Aku yakin para pecinta buku bisa menjelajahi dunia dan menggoreskan sejarah yang indah!

Jogja, 19 November 2015





Rubrik Sungguh-Sungguh Terjadi (Seri Menulis di Media Massa bagian 1)

Sungguh-Sungguh Terjadi (biasa disingkat dan sering disebut SST) adalah salah satu rubrik di Harian Kedaulatan Rakyat. SST merupakan tulisan singkat, sekitar 4-7 kalimat, yang isinya lucu, aneh, nyeleneh, menarik, unik, inspiratif dan nyata.
Berikut ini misalnya:
“Di kantin sekolahku dijual aneka makanan dengan nama-nama lucu dan unik, antara lain: Marmut (Martabak Imut), Tikus (Roti Kukus), Dokar (Donat Bakar), Tikar (Roti Bakar), Nabung (Nasi Bungkus), Nari (Nasi Teri)” (Kiriman dari Shania Putri N, Kelas VIII E MTsN Yogyakarta II. KR, 10 April 2013).
“Banyak pedagang berjualan di pinggir jalan yang tidak konsekuen. Jual roti tawar tapi tidak bisa ditawar. Ada yang tidak bisa mencongak, yaitu tukang foto kilat, ditanya 3 x 4 berapa, jawabnya 1.000.
Pada zaman penjajahan para pedagang ini harus berjarak 5 feet (5 kaki=1,5 meter) dari tepi jalan. Mungkin dari kata lima kaki inilah timbul istilah PKL (Pedagang Kaki Lima). Di New York, USA, disebut Sidewalk Stall.” (Kiriman dari Dr. Warsi, Cilacap. KR, 29 April 2014).
Siapa saja boleh menulis dan mengirimkan karya SST-nya. Penulis SST di KR datang dari berbagai kalangan. Dari anak SD sampai Dosen. Ada juga dari tukang becak, loper koran, guru, dokter, mahasiswa, dll. Meski rubrik kecil dan sederhana, SST memiliki penggemar yang sangat banyak. SST KR memiliki daya pikat yang khas, kadang tulisannya menggelitik, kadang membuat orang jadi mengerutkan kening karena kagum/heran, kadang membuat tersenyum tertawa lepas. Ada pula yang berseloroh, “Tulisan di KR tidak ada yang fakta kecuali satu: Sungguh-Sungguh Terjadi.”
SST  terbit setiap hari. Anda bisa menemuinya di halaman pertama pojok kanan bawah. Senin sampai Sabtu terdapat satu tulisan SST. Khusus hari Minggu, KR menampilkan parade “Sungguh-Sungguh Terjadi dalam Sepekan”, memuat 7-8 tulisan SST. Pada hari Minggu SST berada di halaman satu dan 8 atau 12.
Sepengamatan saya, penulis SST yang paling produktif adalah Dr. Warsi dari Cilacap. Beliau sudah bertahun-tahun menulis SST di KR. Dokter Wildan dari Bantul juga produktif. Bahkan beliau membukukan kumpulan SST-nya yang kebanyakan merupakan pengalaman lucunya ketika berhadapan dengan pasiennya di Rumah Sakit Jiwa. Dosen saya, Dr. Hamdan Daulay juga kerap menulis SST, disamping beliau sering menulis opini ke berbagai surat kabar.
Di bawah ini adalah beberapa contoh SST (lagi):
“Di Banyuwangi ada orang bernama Tuhan, di Madura ada orang bernama Nabi, di Sumatera Utara ada orang bernama Kazib, dan media massa memunculkan orang bernama Syaiton. Sehingga salah satu TV Jakarta sempat mempertemukan Tuhan dengan Syaiton.” (Kiriman dari Dr. Hamdan Daulay, Sleman. KR, 9 September 2015).
“Turis asing (wanita) yang mengerti beberapa patah kata bahasa Jawa naik becak di Malioboro. Ngerti karena terlalu cepat, ia bilang pada Pak Becak, “Alon-alon, Pak.” Eeee, oleh Pak Becak ternyata dibawa ke alun-alun.” (Kiriman dari Zaidin Zaenal, Yogyakarta. KR, 19 Juni 1984).
“Seorang perawat wanita di Bangsal Zaitun RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta Unit 2, Gamping, DIY, punya nama Inova Noor Evi. Kita semua tahu, mobil (Kijang) Inova adalah salah satu produk pabrik Toyota. Ternyata, jika sedang tugas di bangsal, perawat tersebut justru naik mobil Ayla, produk pabrik Daihatsu. Jadi, tidak matching dengan namanya. Ketika sampai di RS, di tempat parkir, sesaat setelah dia turun dari mobil dan berdiri di samping mobilnya, dengan nada berguarau dia sering diejek teman-temannya: Inova parkir jejer Ayla.” (Kiriman dari dr. Wildan, Bantul. KR, 2 Oktober 2014).
“Seorang PNS warga Godean mengidap asam urat dan gampang capek. Ia sering makan kapsul dari sinshe yang harga per kapsulnya Rp. 75.000. Lama-kelamaan ia penasaran dengan kapsul yang mahal itu, dan suatu ketika kapsul itu dibuka. Ternyata berisi undur-undur yang masih hidup.” (Kiriman dari Fatonah, Sleman. KR, 23 Agustus 2015)

Saya juga pernah menulis SST dan dimuat. Berikut isinya:
Hari Difabel Internasional diperingati setiap tanggal 3 Desember. Istilah difabel di ranah gerakan sosial di Indonesi dipopulerkan Dr Mansyur Fakih. Istilah difabel lahir dari hasil diskusinya dengan Drs Setia Adi Purwanta MPd. Difabel beda dengan cacat. Seorang tuna netra dengan yang tidak, letak perbedaannya terletak pada kemampuan, bukan ketidakmampuan atau kecacatannya. Misalnya, Mansyur Fakih pandai membaca huruf latin, Setia Adi Purwanta juga pandai membaca huruf braile lewat jemarinya. Informasi yang dibacanya sama, hanya cara mereka yang berbeda.” (KR, 3 Desember 2015).
SST karya saya mungkin tidak lucu (faktor besar yang membuat dimuat), namun karena ada unsur inspiratif lah yang membuat redaktur “tertarik”. Saya meyakini SST ini punya peluang dimuat karena saya kirim pada momentum yang tepat. Tiga hari sebelum jatuh 3 Desember telah saya kirimkan naskah SST ke kantor KR. Setiap hari KR menerima naskah SST sekitar 30 dan yang dimuat cuma satu pada hari biasa. Waktu tunggu dimuat atau tidak adalah 3-4 hari. Jika Anda kirim hari Senin, maka cek lah hari Rabu/Kamis, kalau memang SST Anda bagus pasti dimuat. Bila selang 3-4 hari Anda cek koran KR dan SST Anda tidak terbit, berarti SST Anda ditolak alias masih kalah menarik dengan SST orang lain.
Teman saya, Teguh Setiyadi, Mahasiswa Ilmu Kesejahteraan Sosial UIN Suka juga produktif menulis SST. Berikut salah satu SST-nya:
Seorang nenek bersama anak dan cucunya membuat heran pengasuh Panti Asuhan BASA Moyudan Sleman, karena si nenek mengaku masih gadis. Tapi setelah si nenek mengisi buku tamu, tertulis nama Gadis Setiyowati. Karena itu semua yakin si nenek benar-benar masih gadis. (KR, 21 Juni 2015).
***
Saya akan berikan beberapa Tips agar SST Anda bisa dimuat. Selain naskah SST yang punya kriteria lucu, unik, aneh, nyeleneh, menarik, inspiratif dan nyata, Anda perlu melakukan hal ini:
1.      Buat SST yang aktual. Contohnya saat media massa ramai memberitakan orang bernama Tuhan, Hamdan Daulay menulis SST yang berkaitan dengan itu.
2.      Sesuaikan dengan momentum. Misal, 3 Desember adalah Hari Difabel Internasional, saya menulis SST tentang Difabel. Misal 17 Agustus Hari Kemerdekaan RI, ya coba Anda tulis SST yang berkaitan dengan momentum tersebut. Dan ingat, usahakan kirimnya tiga hari sebelum Hari H.
3.      Seminggu maksimal kirimnya dua kali. Jika kirim tiap hari, tentu Redaktur KR akan “bosan” dengan Anda. Selain itu, KR tentu ingin memberikan kesempatan pada yang lain.
4.      Kirim pada Senin dan Kamis. Saya jelaskan yang hari Kamis saja. Karena bila kirim Kamis, kemungkinan dimuatnya hari Minggu. Pada hari Minggu KR biasa memuat SST sebanyak 8 . Artinya, peluang dimuatnya lebih besar daripada hari-hari biasa.
5.      Jangan kirim naskah SST saat tanggal merah atau hari libur nasional. Sekalipun hari itu adalah hari Senin atau Kamis. Sebab, saat tanggal merah otomatis Kantor KR pasti tutup. Hehe.
Teknis pengiriman naskah SST bisa kirim via pos (dibubuhi perangko) atau diantar langsung ke kantor KR (kalau diantar sendiri ke kantor, tak perlu dikasih perangko). Alamatnya: Jalan P. Mangkubumi 40-42, Yogyakarta-55232. Di amplop cantumkan juga nama Anda, alamat lengkap (sesuai KTP) dan No. HP.
Jika SST dimuat, Anda akan mendapat honorarium sebesar Rp. 50.000. Honor bisa diambil di kantor KR dengan menunjukkan foto kopi KTP. Kalau tidak diambil, biasanya setelah dua minggu KR mengirim honorarium tersebut lewat wesel pos ke alamat rumah Anda. Atau Anda gunakan alamat kampus atau kos saja agar kiriman wesel itu datang ke alamat kampus/kos.
Naskah SST bisa ditulis/ketik di selembar kertas dan masukkan ke amplop, bisa juga langsung tulis di selembar karu pos (tak perlu pakai amplop). Kartu pos ukurannya sekitar 6 x 8 Cm. Anda dapat memperolehnya dengan beli di kantor pos. Harga berkisar Rp. 200 – Rp. 300 per lembarnya. Namun, saat ini, banyak kantor pos yang sudah tidak menyediakan kartu pos.
***
SST merupakan rubrik yang sangat melegenda di surat kabar Kedaulatan Rakyat.  Posisinya yang berada di halaman pertama membuat tulisan ini dibaca banyak orang. Bila SST Anda dimuat (meski tulisan sederhana dan ringkas), tentu jadi kebanggan tersendiri. Sebab, SST dibaca oleh sekitar satu juta orang. Rubrik yang lain tentu pembacanya tidak sebanyak pembaca SST. Beberapa rubrik lain, selain tulisannya panjang-panjang juga berada di halaman yang kurang strategis, sehingga banyak orang yang melewatkannya.
SST yang menarik bisa membuat banyak pembacanya tersenyum, tertawa, terinspirasi dan tergerak untuk berbuat kebaikan. Silakan Anda menulis SST. Abadikan pengalaman-pengalaman menarik itu dalam tulisan. Jangan biarkan ide-ide bagus yang pernah singgah di otak Anda itu lenyap. Tulislah! Selain bermanfaat bagi diri sendiri juga akan bermanfaat bagi orang lain. Barangkali lewat habits menulis SST, lama-kelamaan ketrampilan menulis Anda semakin terasah. Tak heran, nanti kemampuan Anda bisa meningkat, dari sekadar menulis SST lalu bisa menulis opini atau esai.
Harga eceran koran KR Rp. 3.000. Koran KR terdistribusi di DIY dan Jawa tengah. Anda bisa mengakses KR secara gratis di alamat: epaper.krjogja.com. Epaper-nya biasa update setelah pukul 12.00.
Ada banyak website atau blog yang memajang kumpulan tulisan SST KR. Di bawah ini adalah diantaranya:
krjogja.com/m/liputan-khusus/sst
sst-krjogja.blogspot.co.id
sst-lho.blogspot.co.id
***
Oya, kalau di KR ada SST, di koran Merapi ada TSS (Terjadi Sungguh-Sungguh). Rubrik TSS Merapi tipenya sama persis seperti SST KR. Hanya, waktu tunggunya lebih lama, sekitar 6 Minggu. TTS adanya hari Senin-Sabtu (dulu Minggu ada, tapi sejak awal Desember 2015 Merapi hanya terbit pada Senin sampai Sabtu saja). Honornya lebih kecil dari KR: Rp. 25.000. Alamat kirimnya juga sama seperti KR: Jalan P. Mangkubumi 40-42, Yogyakarta-55232.
Saya beberapa kali menyuntingkan karya SST dan TSS teman, lalu kirim ke KR dan Merapi. Sebagian besar dimuat. Saya sendiri punya pengalaman, saya tulis, lalu kirim ke TSS Merapi, dan dimuat. Berikut isinya: “Belum lama ini saya ke Singapura. Suatu pagi saya sarapan di rumah makan ‘Minang’. Di tempat tersebut ada poster yang tulisannya membuat orang tersenyum namun sebenarnya bermakna dalam. Yakni: ‘Kalau mau senang rajinlah berusaha. Kalau mau susah duduklah sampai tua.’ Benar juga ya.” (Merapi, 1 November 2015)
***

Jogja, 17 Desember 2015

Artikel ini ditulis oleh Amin Sahri, Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Hadiah yang Indah

Hadiah yang Indah

Langit berjubah mendung. Tak lama kemudian awan-awan meneteskan butir-butir gerimis. Bumi Jogja bermandi air hujan di sore hari. Beruntung aku membawa payung, karena tadi pagi juga hujan. Usai mata kuliah PKn, semua anak Komunikasi Penyiaran Islam (KPI) C berhambur ke luar kelas. Aku menuruni tangga dari lantai tiga. Di koridor bawah aku melihat Risa sedang duduk di bangku sendirian.
“Nunggu, siapa, Risa?” tanyaku pada wanita berjilbab biru muda itu.
“Nunggu hujan reda,” jawabnya santai. Suaranya hampir tak terdengar, diredam gemuruh suara hujan.
“Jalan bareng , yuk! Aku bawa payung,” tanganku membuka resleting tas, menjumput gagang payung, kemudian memekarkannya.
“Wah... kebetulan nih. Iya boleh, aku ikut nebeng,” sahutnya sumringah. Senyum merekah di bibirnya. Indah.
Risa adalah kawan baruku, dia jurusan Ilmu Kesejahteraan Sosial (IKS). Aku mengenalnya tiga minggu lalu saat diklat LPM Rhetor. Tiap pekan kita bertemu dalam diskusi redaksi.
Kami berdua berjalan sejajar. Bernaung di bawah payung hijau. Irama gerimis terdengar merdu. Kawan-kawanku yang lain juga ada yang membawa payung untuk pulang dari kampus. Beberapa mengenakan mantel untuk menerjang gerimis yang masih betah bersenandung.
“Fahri, kosmu di mana,” Risa bertanya.
“Di jalan Suroto, dekat perpus kota,” jawabku.
“Kalau aku di Lempuyangan, tinggal dirumah Bu Dhe-ku,” dia mengusap pipi putihnya yang terciprati rerintik air.

“Sa, apa kamu suka hujan?” tanyaku.
“Tentu. Hujan itu tamu yang baik. Saat hujan datang, doa manusia akan diijabah. Mungkin Tuhan tahu, kita ini terlalu sibuk dan jarang berdoa. Dia berbaik hati dengan memerintahkan miliaran butir-butir air untuk terjun ke bumi. Alasannya agar manusia tidak dulu banyak kesibukan, berteduh sejenak, atau rehat di rumah, merenung dan memanjatkan doa-doa yang baik,” urai Risa. Panjang lebar namun asyik disimak.
“Benar, katamu. Sayangnya ada saja yang tidak bermunajat malah ia berkeluh kesah dan jengkel pada hujan yang tak berdosa,” sahutku.
Kami terus berbincang sambil berjalan. Aku merasa nyaman dan senang bersamanya. Langkah kaki kami telah sampai di Halte Trans Jogja. Risa keluar dari payungku dan mengucapkan terima kasih. “Aku duluan, ya!” tukasku padanya. Ia mengangguk dan menguntai senyum. Manis sekali. Lalu aku menyeberang jalan. Melanjutkan gerak kaki untuk sampai ke kos.
*
Hari Selasa hanya ada satu mata kuliah. Kini aku berada di perpustakaan kampus. Suasana nyaman dan sejuk. Banyak mahasiswa di sini khusyuk membaca. Beberapa yang lain berdiskusi mengerjakan tugas kelompok.
Di lantai dua, aku masuk ke ruang serial, mengambil surat kabar. Aku duduk di kursi empuk dan membaca rubrik Suara Kampus. Kursi di sebelah kiriku yang berjarak lima puluh senti berdecit pelan. Ada seseorang yang menarik punggung kursi lalu ia duduk dipangkuannya. Kepalaku menoleh. Aih... aku tak asing dengan wajahnya.
“Hai, Sa, sedang baca apa?” aku menyapa duluan.
“Ini, majalah sastra. Kau di sini rupanya?!” muka Risa menghadap ke mukaku. Kedua mataku bisa menangkap sempurna wajahnya yang berhias senyum. Lesung pipitnya terbit di kanan-kiri wajah ramahnya. Kau seperti bidadari yang cantik, yang anggun, Risa.

“Eh... iya,” hampir dua puluh detik kata itu baru terucap. “Sa, sastrawan yang kau sukai siapa?” lanjutku.

“Aku suka Ahmad Tohari. Kalau penulis masa kini aku suka Tere Liye,” jawabnya, sambil membalik halaman majalah. “Oh iya, aku juga suka kamu,” Aduhai... aku senang mendengar kalimat ini. Kenapa jantungku berdebar? Perasaan macam apakah ini? Hei, Fahri dengarlah ucapan gadis jelita itu secara lengkap. Tangkap maknanya dengan objektif. “...suka karyamu. Puisimu minggu lalu dimuat surat kabar, kan?” tanyanya.
“Iya,” suaraku pelan. Mukaku perlahan memerah. Di hati ada rasa sungkan, namun juga senang.
            “Waktu SMA aku juga pernah baca puisimu yang dimuat majalah sastra ini. Puisimu ringkas namun kaya makna, bahasa puitismu khas, indah,” ia menunjukkan kaver majalah itu padaku. Tuhan, ternyata dulu Kau telah mempertemukan aku dengan dia lewat sajak yang sederhana. Terima kasih.
“Terima kasih atas apresiasinya, Risa,” responku. Aku beralih bertanya, “Kau pernah baca buku kumpulan cerpen Berjuta Rasanya... punya Tere Liye?”
“Belum. Aku baru baca novel-novelnya dia,” tandasnya.
Kalau begitu, aku ingin memberikan hadiah buku itu untukmu. Bisikku di benak.
*
Di tanah rantau ini, wajar bila aku harus berjiwa mandiri. Aku telah dewasa, tak ingin orangtuaku mengirimi uang untuk biaya hidup dan kuliahku. Aku kerja part-time di tempat foto kopian dekat kampus. Sekarang masih tanggal muda, baru kemarin aku terima gajian. Aku sudah membeli buku baru: kumpulan cerpen Berjuta Rasanya. Kebetulan Buku bagus ini akan kujadikan hadiah istimewa buat Risa, meski tanggal kini tidak jatuh sebagai hari ulang tahunnya. Menurutku, memberi hadiah itu tak perlu menunggu satu tahun atau mesti di tanggal dan bulan yang diagungkan kebanyakan orang.

Aku telah mengirim SMS pada Risa agar kita ketemuan di depan gedung Multy Purpose pukul 16.40. Pemandangan sore ini di kampus adalah mahasiswa berlintasan hendak pulang. Ada yang mengendarai motor sendirian, berboncengan dengan teman, dijemput orangtua. Ada yang bersepeda, menunggu bus, jalan kaki—termasuk aku, dan ada yang masih duduk-duduk di bangku melingkar di bawah pohon beringin besar. Ada yang antri membeli es, siomay, batagor dan yang lain.
Langkah kakiku berbeda dengan teman-teman yang lain, nampak tergesa dan gelisah. Apa pasal? Aku terlambat lima belas menit atas “jadwal bertemu” dengan Risa yang telah dijanjikan. Aku merasa tak enak hati membuat dia jadi menunggu.
“Maaf, Sa, baru bisa sampai sini,” ucapku sembari mengusap peluh di pipi kanan.
“Tak masalah,” sahutnya santai, mukanya tetap berseri, senyumnya terkulum. Lalu aku duduk di sebelah Risa, di bangku bawah pohon beringin yang berangin segar. Aku mengatur nafas, mendamaikan rusuh di hati dan menata diri.
“Sebenarnya aku mau memberimu sesuatu yang aku kira kau akan menyukainya. Tapi maaf, Sa, mungkin karna aku teledor, barang itu hilang. Tadi aku sempat mencarinya lama, namun tak kunjung ketemu,” jelasku pada wanita di sebelah kiriku. “Mungkin besok bisa kutemukan.”
Bibir Risa membentuk pelangi yang terbalik, senyum yang terbaik. Ajaib. “Wah... terima kasih Fahri atas niat baikmu. Aku jadi terharu,” Dia tertawa kecil, mencairkan suasana—hatiku. “Nampaknya senja sudah sampai di depan beranda rumah, Fahri. Sebentar lagi ia menutup pintu dan menyembunyikan cahayanya. Yuk, kita pulang!” indah nian nan santun sekali kata-katamu, Risa.
“Ayo...” jawabku bergairah. Aku dan dia bangkit berdiri, berjalan bersampingan. Bersamnya aku merasa nyaman dan senang. Belum sukses aku memberi hadiah padanya namun Risa sudah memberiku hadiah yang indah. Hadiah yang tak berupa benda yang dapat dipegang kedua tanganku. Hadiah itu adalah senyum manisnya, sikap anggun-ramahnya, kata-kata santun nan bermaknanya yang hanya bisa di sentuh tangan-hati. Tuhan, aku ingin ada perjumpaan dan perbincangan selanjutnya dengan dia: Risa. Munajatku dalam kalbu, memanjat ke langit dan menutup senja hari ini.

***
Write here, about you and your blog.
 
Copyright 2009 Menulis dan Mengekalkan Kenangan All rights reserved.
Free Blogger Templates by DeluxeTemplates.net
Wordpress Theme by EZwpthemes
Blogger Templates