RSS
Tampilkan postingan dengan label PUISI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PUISI. Tampilkan semua postingan

Rindu Rabu

Rindu Rabu
Biasanya langit lebih biru pada hari Rabu
Burung-burung bernyanyi lebih merdu
Angin berhembus lebih sepoi
Jalanan lebih lengang
Langkah kakiku jadi lebih ringan
Menuju rumah ramahmu
Untuk pulang menceritakan kerinduan
Aku telah menabung cahaya dan embun
Aku telah mencatat kisah-kisah indah
Ingin kuberikan padamu
Agar kau tersenyum
Agar melati mekar di hati--kita

Jogja, 24 November 2015

Doa yang Paling Tajam

Doa yang Paling Tajam

Dewi, sampai anak panah menusuk jantungku
Aku masih mengingatmu
Aku sebut namamu dengan gemetar
Dalam doa yang paling tajam
Darah mengucur dan airmata bercucuran
Menjadi saksi seluruh jiwa-ragaku
Mencintaimu dalam pedih-perih
Semoga cinta yang putih menaburkan bunga-bunga melati
Mewangikan rindu yang tertanam sejak ribuan malam

Jogja, 19 Desember 2016Top of Form



Selamat Ulang Tahun, Puisiku

Selamat Ulang Tahun, Puisiku

Selamat ulang tahun, Puisiku
Semoga kau berbahagia
Semoga kau selalu tumbuh
menjadi puisi-puisi yang meneduhkan jiwa
Semoga kau menjadi puisi-puisi yang mampu
membasuhbersihkan kalbu yang berdebu
Semoga kau selalu dicintai Sang Kekasih
yang cintanya sebening embun

Selamat ulang tahun, Puisiku
Semoga kau semakin bercahaya
Terima kasih atas sejuta pelangi
yang kau kirim-masukkan ke dalam langit dadaku
Semoga kau selalu memberikan warna 
kepada jiwa yang sedang mendung
Semoga Kau selalu dicintai Sang Kekasih
yang kasih sayangnya setulus cahaya mentari.

Jogja, 8 Desember 2016
Top of Form


Rindu yang Bertamu

Rindu yang Bertamu

Kau kerap hadir dalam mimpi malam
Kapan kau hadir lagi dalam nyata siang?

Sudah sekian lama tak jumpa, rindu semakin berlumut
Ketika diriku mulai melupa, acap kali wajahmu menggelayut

Aku tak mengundang, namun rindu itu hadir begitu saja
Rindu itu menyebut-nyebut namamu
Senada dengan jantung yang berdenyut dan jiwa yang bergetar

Angin yang menerpa wajahku terasa dingin
Apakah kau bisa menghangatkannya?
Waktu-waktu yang kuhadapi seperti membeku
Apakah kau bisa mencairkannya?

Jogja, 17 November 2016

Kembara Rindu

Kembara Rindu

Saat kakiku melangkah
berpisah darimu
Sampai ke tengah jalan,
langit mengundang mendung
Tangan-tangan hujan memukul wajahku
Seluruh tubuhku basah kuyup oleh rindu
Ketika jalanan gelap
dan udara makin dingin
Masih saja wajahmu terlintas
jelas di benakku
Senyummu masih terlukis
Merekah indah
Bagai lentera yang menerangi perjalanan
dan menghangatkan kesunyian jiwa

Jogja, 16 November 2016

Menuju Desember

Menuju Desember

Tiga kali Desember
Tiga kali pertemua kita
Kini kalender memanggil-manggil
Untuk pertemuan keempat
Wajahnya pucat
Takut kehilangan purnama
Bibirnya ngilu
Menahan rindu yang pilu
Matanya perih
Melihat ombak yang bergejolak
Melihat angin yang menampar-nampar
Airmatanya meneteskan bulir-bulir puisi
Menegarkan jiwa yang menyimpan cinta



Jogja, 16 Oktober 2016

DEBAR

DEBAR
Hanya sepintas wajahmu kulihat
Namun hadirmu terasa begitu lekat
Sorot matamu adalah cahaya yang buatku tersipu
Hatiku berdebar dan mulutku membisu
Hanya kata-kata yang bergejolak dalam jiwa
Tanpa ada suara dan tak berani bicara
Tanganmu menggenggam cinta
Senyummu menebar rindu
Mataku mengalirkan airmata
Kesedihan sekaligus kebahagian yang ambigu
Dadaku bergemuruh
Hatiku makin berdebar
Aku ingin bersamamu
Untuk lenyapkan kegundahan
Aku ingin meninggalkanmu
Untuk meredam debar jiwa

Jogja, 3 Juni 2016

Gerimis

Gerimis
; untuk wanita berparas embun

Selalu ada gerimis di dalam dadaku
Tiap teringat senyummu yang manis
Rerintiknya selalu memuji namamu
Dalam hening yang tak tertakar

Gerimis selalu mengetuk-ngetuk kalbuku
Menyiramkan kesejukan
Juga menyuarakan rindu yang pilu
Pada dirimu yang terlalu kukagumi dalam diam

Bibirku tak pernah bisa bicara lantang layaknya deras hujan
Hanya berbisik, samar-samar
Tersirat, itulah yang meluncur dari gerimis jiwaku

Gerimis memang seperti tangis
Yang melayarkan doa-doa sunyi
Memohonkan kebahagian untukmu, wanita berparas embun
Yang menyemai damai
Kadang menguntai haru dalam hirupan napasku

Engkau, aku, di ruang gerimis
Adalah sepotong kisah
Yang berharap jadi sepasang kekasih
Menyebarkan dan menyuburkan benih-benih cinta



Jogja, 17 Oktober 2014

Pertemuan Kau dan Dia

Pertemuan Kau dan Dia

/1/ Kau

kau dan dia bertemu kedua kalinya di kampus putih
wajahnya yang embun telah menyejukkan kalbumu
pandangan matanya membuat hatimu berbunga
kata-katanya bak senandung yang mengetuk pintu rindu
kau temukan bulan purnama di lingkar mukanya
kau genggam cahayanya, lalu kau tanam dalam dadamu

dia senyum, kau balas senyum
kau menyapa pelan, dia menyambut lembut
kau permisi, dia menyilakan
kau dan dia berkata seperlunya
bersikap santun, sewajarnya
dan sama-sama sungkan

kau temukan telaga di pipinya
kau duduk di tepinya dan memandang pelangi
yang terbentang di jilbabnya
meski ada kekaguman, kau hanya diam
menyimpan perasaan
dan menulis puisi di lembaran hati

/2/ Dia

dia dan kau bertemu kedua belas kalinya di kampus putih
dia mendapati matahari terbit dari matamu
dan menyinari mata-hatinya
dia mencium aroma bunga mawar
dari kata-katamu yang bersahaja
meski tingkahmu lugu, dia tahu kau membawa api
semangat yang menyala-nyala ada di dadamu

kau senyum, dia balas senyum
dia menyapa pelan, kau menyambut lembut
dia permisi, kau menyilakan
dia dan kau berkata seperlunya
bersikap santun, sewajarnya
dan sama-sama sungkan

dia melihat ada pantai di pipimu
dia duduk di tepinya dan memandang pesona senja
yang terbentang di topimu
meski ada ketakjuban, dia tak berucap
hanya membatin, menyimpan perasaan
dan syair-syair indah dia rapalkan dalam hati



Yogyakarta, 29-30 Desember 2014

Senyummu

Senyummu

Senyum yang terukir di bibirmu
Membuka celah mata air
Mengalirkan kesejukan
Membinarkan mata yang memandang
Mencerahkan muka  yang bersitatap

Senyum yang kau cipta dari tulus hati
Seperti harumnya bunga melati
Menebarkan rona ceria
Menyapa sampai ke relung jiwa

Senyummu seperti ombak yang bergelung
Menari-nari indah dan dirindui pantai
Deburnya melebur dalam detak nadi
Merobohkan sunyi-sepi
Dan mendekap jiwa dengan mesra



Jogja, 27 Desember 2014
Write here, about you and your blog.
 
Copyright 2009 Menulis dan Mengekalkan Kenangan All rights reserved.
Free Blogger Templates by DeluxeTemplates.net
Wordpress Theme by EZwpthemes
Blogger Templates