RSS
Tampilkan postingan dengan label CERPEN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label CERPEN. Tampilkan semua postingan

SEMUA AKAN BERJODOH PADA WAKTUNYA

SEMUA AKAN BERJODOH PADA WAKTUNYA
.
Dari buku-bukuku yang lama tak terjual dan sepertinya sudah tidak laku namun kemdian laku, bahkan kadang dengan mahar yang lebih besar dari yang sewajarnya, aku menjadi belajar tentang jodoh dan cinta sejati. Aku mengambil hikmah bahwa semua akan berjodoh pada waktunya. Bukan hanya buku, jomblo akut sekalipun nanti pasti akan berjodoh pada waktunya. Berjodoh dengan orang yang tepat.
.
Seandainya saat ini aku ditolak oleh seorang perempuan pujaan hati, aku tak perlu patah hati. Kalaupun spontan sedih, jangan lama-lama, cukup satu lagu saja, lima menit saja. Setelah itu, aku coba menenangkan pikiran, berpikir positif, berdoa dan bersikap ikhlas-ridha-rela. Ya itulah sikap yang harus aku ambil. Hidup akan menjadi tentram dan damai. Tak perlulah marah, ngambek dan kecewa.
.
Selama kurun empat tahun aku jualan buku, lumaayan ada banyak juga pelanggan buku yang PHP (Pemberi Harapan Palsu). Bilang beli, eh tidak jadi beli. Bilang mau transfer, eh tidak jadi transfer, terus dia minggat! Menghadapi kenyataan ini, rasa kecewa sepertinya akan timbul spontan. Namun aku bisa mengelola dan mengendalikan emosi itu. Dan lama makin lama aku sudah terbiasa mengondisikan diri untuk bersikap santai saja. Kalau ada yang PHP ya sudah, lupakan dia. Tidak usah berlarut dengan kecewa dan mangkel.
.
Anak-anakku (maksudnya buku-bukuku), yang semula dicampakkan oleh orang-orang yang kurang jelas, pada akhirnya dia-dia dipinang oleh orang-orang yang tegas dan menyenangkan. Orang yang serius dan mencintainya dengan tulus. 
Sebenarnya ada banyak ‘contoh kasusnya’. Namun kali ini aku sebutkan sedikit cerita saja. Dulu, sekitar dua tahun lalu, aku pernah promosi jual buku kumpulan cerpen Kuda Terbang Mario Pinto-nya Lynda Cristanti. Aku jual cuma seharga Rp. 20.000. Ada seorang dari Solo yang bilang mau beli. 
.
“Kudang Terbang Mario Pinto masih ada? Boleh saya beli?”
.
“Masih. Boleh.”
.
“Ongkir ke Solo berapa?”
.
“Ongkir 10.000 via JNE.”
.
“Wah ongkirnya mahal juga, ya. Sebentar, saya sambil cari bukumu yang lain.”
.
“Iya, oke.”
.
“Saya jadi ambilnya Kuda Terbang Mario Pinto aja. Tapi saya ambil di Jogja saja ya. Saya mau datang ke acara di Penerbit Bentang. Ketemu di sana saja, ya?”
.
“Insya Allah, Mba, kalau saya ada waktu luang dan bisa ke sana.”
.
Hari berikutnya dia ngabari.
.
“Ternyata hari ini aku ada acara di rumah teman, jadi tidak bisa ke Jogja. Tapi kalau kamu mau ke sana, ke sana aja ga papa.”
.
“Oke, Mba, gak papa. Jadi kirim aja ya? Totalnya Rp. 30.000, transfernya ke BRI 1753XXXXXX atas nama Amin Sahri.”
.
Sejak hari pertama negoisasi sampai 22 bulan berikutnya, Kuda terbang Mario Pinta tidak jua dia ambil. Buku itu masih tersimpan di kosku.
***
.
Akhir bulan November kemarin Lynda Cristanti bertandang ke Jogja. Aku titip buku Kuda Terbang Mario Pinto ke teman untuk dimintakan tanda tangan ke Lynda Cristanti. Malam berikunya aku menemui temanku dan mengambil buku itu.
.
Aku bertemu temannya temanku. Lalu dia bilang:
.
“Kuda Terbang Mario Pinto-nya harga berapa?”
.
“Gak tak jual. Buat koleksi sendiri.”
.
“Yah, aku udah lama banget nyari gak nemu-nemu. Di mana-mana juga udah gak ada. Mbok dijuallah, aku mau.”
.
“Gak ya. Ini buat koleksi aja. Spesial ada tanda tangannya penulis dan ini termasuk buku langka. Kalau dijual ini harganya mahal, pasti kamu gak berani.”
.
“Berapa kalau mau dijual.”
.
“Seratus ribu.”
.
“Yah, lima puluh ribu aja ya?”
.
“Belum bisa. Seratus ribu aja. Hehe.”
.
“Wah aku pengin banget e bang.”
.
“Ya wis aku kurangi, 80.000 aja.”
.
“50.000 aja ya mas. Uangku tinggal sedikit buat pulang naik bis.”
.
“Belum bisa e.”
.
Lalu dia pergi. Aku masih ngobrol dengan temanku.
Orang itu datang lagi.
.
“Ayo lah bang, 50.000 aja.”
.
“Belum bisa e. Buku langka ini. Aku turunin lagi jadi 70.000 dah.”
“Tinggal buat pulang ngebis aja ini uangku bang.”
.
“Oya udah, kayanya kamu serius banget pengin punya buku ini. Aku kasih 50.000 aja gak papa.”
.
“Beneran ini, bang?”
.
“Iya.”
.
Dia mengeluarkan dompet dari saku celananya. Lalu membayar buku itu dengan selembar uang bewarna biru. Dia nampak bahagia sekali dan nyengir lebar. Aku juga ikut bahagia. Dulu buku ini pernah aku jual murah, cuma Rp. 20.000 aja, belum laku, kena PHP lagi. Setelah sekian lama, akhirnya bukuku itu berjodoh dengan orang yang tepat, orang yang serius, orang yang benar-benar mencinati buku itu dengan tulus. Dia yang mencari ‘jodohnya’ dengan sabar akhirnya juga mendapatkan apa yang diinginkannya di waktu yang tepat dan mendapatkan hasil yang lebih sempurna. Sebuah buku Kuda Terbang Mario Pinto plus Tanda Tangan Penulisnya. Sangat Istimewa!
.
Dari kisah ini, aku mengambil pelajaran. Jika aku ditolak sekali oleh seorang perempuan pujaan hati, itu belum tentu ditolak. Barangkali dia baru mengetes keseriusanku. Dia sedang memberi waktu agar aku membuktikan seberapa besar dan seberapa tulus cintaku. Haha.
.
Ya, pada intinya, kita kan selalu dipertemukan dengan sesuatu dan seseorang yang kita cinta dengan tulus dan sungguh-sungguh. Pada waktu yang tepat. 
***

Surat Rindu untuk Devi

Assalamu’alaikum…

Selamat ulang tahun buat Devi di bulan Desember 2016 ini (tanggal 8 ya tepatnya? Bertepatan dengan rilis Film Bulan terbelah di Langit Amerika #2? Hehe). Semoga Deviana Ayuk semakin menjadi pribadi yang lebih baik, menjadi wanita solehah kebaanggaan keluarga-saudara-sahabat dan senantiasa memberikan kebermanfaatan dalam kehidupan ini.
Maaf, ya, Dev… bila tiba-tiba aku mengirim surat ini. Ada hal yang ingin kusampaikan…
Telah lama aku menyimpan sebuah perasaan kepadamu. Aku ingin bersikap biasa-biasa saja dan menepis rasa ini, namun… itu tidak bisa, tidak mudah!
Aku mencintaimu. Aku pernah mencintaimu begitu dalam. Aku pernah berharap memilikimu. Aku pernah berharap berjodoh denganmu. Aduh, salahkah?
Aku tahu kau wanita yang baik, ayu, cerdas dan berperangai mulia (aku tak berusaha memuji ataupun merayu, namun sepertinya begitulah dirimu apa adanya—dan semoga iya, ya?). Maaf, aku jatuh hati kepadamu. Aku memohon maaf, karena mungkin aku telah lancang jatuh hati kepada seorang perempuan pilihan, yaitu dirimu.
Aku merenung-renung. Salahkah aku telah terperangkap dalam perasaan cinta ini? Jika aku mencintaimu, apakah kau bisa menerima? Mungkin aku tak tahu diri bila mencintai wanita ‘sesempurna’ dirimu. Mungkin aku harus melupakanmu dan berdoa agar kau mendapatkan lelaki yang sangat layak denganmu.
Sudah beberapa kali aku berusaha melupakanmu. Sudah beberapa kali aku berusaha bersikap biasa-biasa saja denganmu. Namun, aku bingung sendiri… kenapa tiap—kebetulan—ada perjumpaan denganmu hatiku kembali berdebar, rindu, haru, bahagia. Senyummu adalah madu. Sorot matamu adalah cahaya purnama. Dan kata-katamu membuat hatiku merasa nyaman.
Dev, aku sangat mencintaimu. Namun, aku memang harus sadar. Aku tak boleh memaksa kau memiliki rasa yang sama denganku. Aku pernah berusaha melupakanmu dan berdoa agar kau mendapatkan lelaki yang memang pantas denganmu. Namun, sebelum aku melupakanmu, sepertinya aku harus jujur dengan perasaanku ini. Ingin kuabaikan perasaan ini, namun ia telah memberikan warna yang indah dalam hidupku. Ia telah menuntunku menulis seratusan puisi. Inspirasinya adalah kamu, Devi.
Aku juga heran, entah dapat kekuatan dari mana aku bisa menulis puisi sebanyak itu. Bahkan, ada dua puisiku yang menjadi juara. Puisi ‘Gerimis’ menjadi Juara 2 Lomba Menulis dan Membaca Puisi Tingkat DIY-Jateng. Puisi ‘Pertemuan Kau dan Dia’ menjadi Juara 1 Lomba Menulis Puisi Romantika Cinta Remaja.
Beberapa puisi terbaruku aku cantumkan di sini…
Aku Akan Melupakanmu

Aku akan melupakanmu, duhai perempuan yang telah lama kukagumi dalam diam. Aku akan melupakanmu… ah, apa mungkin bisa? Akan kucoba! Setidaknya bisa untuk melupakan keinginan memilikimu. Akan kulenyapkan keegoisan mengharapkanmu.

Akan kucabut dari kepalaku puisi-puisi tentangmu yang telah tertanam sejak ribuan malam silam. Aku tahu, kau adalah mutiara yang belum layak digenggam tanganku yang berlumur lumpur.

Aku akan menjauhimu sejauh-jauhnya. Bukan membencimu! Aku hanya tak ingin tergantung dengan pancaran sinarmu. Aku akan melepaskan bayang-bayangmu.

Aku akan memutus tangan-tangan rindu yang kerap menggedor ingatanku tentangmu. Akan kutebang setiap pohon-pohon rindu itu tumbuh. Aku tak ingin tubuhku yang rubuh karena ketakberdayaan melawan api cinta—mu.


Jogja, 26 Oktober 2016



Menuju Desember

Tiga kali Desember
Tiga kali pertemua kita
Kini kalender memanggil-manggil
Untuk pertemuan keempat
Wajahnya pucat
Takut kehilangan purnama
Bibirnya ngilu
Menahan rindu yang pilu
Matanya perih
Melihat ombak yang bergejolak
Melihat angin yang menampar-nampar
Airmatanya meneteskan bulir-bulir puisi
Menegarkan jiwa yang menyimpan cinta

Jogja, 16 Oktober 2016


Debar
Hanya sepintas wajahmu kulihat
Namun hadirmu terasa begitu lekat
Sorot matamu adalah cahaya yang buatku tersipu
Hatiku berdebar dan mulutku membisu
Hanya kata-kata yang bergejolak dalam jiwa
Tanpa ada suara dan tak berani bicara
Tanganmu menggenggam cinta
Senyummu menebar rindu
Mataku mengalirkan airmata
Kesedihan sekaligus kebahagian yang ambigu
Dadaku bergemuruh
Hatiku makin berdebar
Aku ingin bersamamu
Untuk lenyapkan kegundahan
Aku ingin meninggalkanmu
Untuk meredam debar jiwa

2016

Dev, karenamu, aku juga telah menulis seratusan catatan, renungan dan cerita-cerita pendek. Ada pula yang dimuat di koran. Tentu lebih banyak yang cuma terposting di blog. Hehe. Kali ini, aku cantumkan salah satu catatan itu…

Angka 13 dan Tiket Bioskop
“Orang-orang yang jatuh cinta terkadang terbelenggu oleh ilusi yang diciptakan oleh dirinya sendiri. Ia tak kuasa lagi membedakan mana yang benar-benar nyata, mana yang hasil kreasi hatinya yang sedang memendam rindu. Kejadian-kejadian kecil, cukup sudah untuk membuatnya senang. Merasa seolah-olah itu kabar baik. Padahal saat itu ia tahu kalau itu hanya bualan perasaannya, maka saat itulah hatinya akan hancur berkeping-keping. Patah hati!” (Dalam cerpen ‘Berjuta Rasanya’, Tere Liye).
***

Selain pernah membaca buku Berjuta Rasanya, aku juga pernah membaca buku 13 Wasiat Terlarang. Dua buku yang menarik dan berbeda 'aliran'. Selepas itu, aku mulai menepis mitos angka 13 yang dibenci sebagian orang. Angka 13 bisa jadi sebuah keberuntungan, tergantung kita saja yang memaknainya.

Lalu, takdir baik beberapa kali mempertemukanku pada angka 13. Kuliah di UIN Suka itu takdir baikku. Aku ada upaya kuliah di tahun 2012, namun belum berhasil. Ternyata, aku berjodoh dengan UIN Suka pada tahun berikutnya, 2013.

Lalu, semestinya aku ikut event Kampus Fiksi angkatan 14. Entah kenapa, takdir atau skenario Tuhan membuatku masuk ke angkatan 13. 13 yang konon adalah angka sial tak terbukti padaku. Aku malah beruntung. Salah satunya mengenal seorang perempuan multitalenta yang sekaligus ramah dan rendah hati. Kebetulan namanya seperti namamu. Ini bukan berarti aku jatuh cinta padanya. Namun, sekadar kagum dan diam-diam aku belajar padanya. Belajar dari cara dia bersikap. Belajar dari pemikiran dan hal-hal yang melekat padanya. Mungkin dia tidak tahu kalau dia telah membuatku terinspirasi.

Lalu, Selasa kemarin kita nonton film di Sinema 21 Amplaz. Sudah terlambat 13 menitan kita baru antri tiket. Aku menyerahkan sepenuhnya padamu untuk memilih tempat duduk. Lalu kita sepakat memilih sepaket tempat duduk di tengah yang memang masih kosong, strategis pula. Aku duduk di kursi F 14, apakah jodohku di F 13, atau pergi ke mana? Kau duduk di F 13 dengan rileks dan memandang ke depan dengan wajah yang indah.

Kita ketinggalan jalan cerita film sekira 20 menitan. Aku senang berada di sampingmu, lebih senang lagi karena kamu sangat menikmati film ini. Usai nonton, kita jalan pulang sembari bercerita dan berkomentar soal film yang baru selesai kita tonton. "Terima kasih ya, Amri. Filmnya bagus banget. Sangat menginspirasi. Aku gak mau ketinggalan satu adegan pun," ucapmu. Aku mengangguk dan senang melihat senyummu yang mengembang. Itu adalah senyum yang berharga dan bermakna.

Oya, terakhir kita nonton bersama juga di tempat ini, pada dua tahun yang lalu?

De, kau tahu kenapa aku mau mentraktirmu nonton film ini? Sebab, aku yakin kau sangat suka film ini sebagaimana dulu kau antusias untuk menonton film "99 Cahaya di Langit Eropa". Aku juga tertarik menyaksikan film ini karena sudah dua kali mengikuti screening-nya di GSP UGM dan Auditorium UNY. Saat di UGM, bahkan aku dapat doorprize novel "Bulan Terbelah di Langit Amerika" dan diajak berfoto bersama penulis dan pemaran utama filmnya. Saat di UNY, aku ikut acara workhshop kepenulisan yang dinarasumberi Hanum Salsabila Rais. Tiket masuk acara tersebut aku diberi gratis oleh Muza. Maka aku merasa 'tega' bila tak sampai menonton film ini. Aku malas bila berangkat nonton sendiri. Aku butuh teman. Selain itu, aku perlu berbagi kebaikan sebab sedari kemarin aku telah dapat banyak 'keberuntungan'. Kenapa tak ajak Muza? Aku lihat dia sedang sibuk. Kapan-kapan lah, kalau memungkinan kita nonton bertiga...

Melawan Kemustahilan

Suatu hari aku berkhayal menjadi juara lomba puisi. Aku berharap sekali bisa mendeklamasikan puisiku pada momentum yang tepat. Aku berkhayal, audinces mengamini doa yang terkandung dalam puisiku. Puisi ini aku persembahkan untuk seorang wanita. Aku tulis dengan tulus (semoga).

Inspirasi itu hadir, lahirlah puisi yang kuberi judul Gerimis. Minggu malam, 2 November 2014 kebetulan aku mendengarkan acara Puisi Pro 2 RRI Jogja. Lantas kukirimkan puisiku via SMS. Di penghujung acara, diumumkan bahwa puisiku menjadi yang terbaik dan masuk semifinal. Hatiku berbunga-bunga.

Hari “pertarungan” tiba (16/11). Para semifinalis diminta membacakan puisinya langsung dari studio radio. Lewat waktu Isya hujan masih deras. Aku SMS dan telepon teman dengan niat pinjam motor tapi hasilnya nihil. Normalnya, acara Puisi Pro 2 RRI berlangsung pukul 20.30-22.00. Pukul 21.40, hujan mulai berganti gerimis. Sebentar lagi waktu “pertarungan” berakhir, kalau aku tidak hadir berarti “kalah”. Aku “nekat” berangkat ke studio, dengan sepeda teman (meski kempes).

Aku SMS crew radio bahwa aku sedang dalam perjalanan ke studio. Aku yang sempat semangat dan berbahagia karena puisiku sukses di babak awal, jangan sampai menyerah ditengah, harus terus berjuang—sampai final. Kakiku menggowes sepeda begitu cepat, namun tetap saja jalannya lambat karena bannya kempes. Di tengah perjalanan pedal lepas, aku berhenti dan memperbaiki. Sepertinya aku sedang melawan kemustahilan. Namun api semangat di dalam dadaku terus menyala.

Pukul 22.10 aku tiba di studio, diperbolehkan tampil. Aku membacakan puisi Gerimis-ku. Saat pengumuman, aku dinyatakan masuk final. Aku sangat bersyukur.

Enam hari menuju final. Aku sering latihan baca puisi di kamar. Di kampus, aku kerap berlatih dan meminta saran dari teman, aku juga belajar dari  video para juara lomba baca puisi.

Final (22/11) berlangsung di Ambarukmo Plaza, aku berusaha tampil maksimal dan akhirnya sukses meraih Juara 2. Tak menyangka bisa juara, seperti mustahil sebab sebelumnya aku tak punya pengalaman membaca-baca puisi di hadapan banyak penonton.

Dev, puisi itu akan aku cantumkan di sini…
Gerimis
; untuk wanita berparas embun

Selalu ada gerimis di dalam dadaku
Tiap teringat senyummu yang manis
Rerintiknya selalu memuji namamu
Dalam hening yang tak tertakar

Gerimis selalu mengetuk-ngetuk kalbuku
Menyiramkan kesejukan
Juga menyuarakan rindu yang pilu
Pada dirimu yang terlalu kukagumi dalam diam

Bibirku tak pernah bisa bicara lantang layaknya deras hujan
Hanya berbisik, samar-samar
Tersirat, itulah yang meluncur dari gerimis jiwaku

Gerimis memang seperti tangis
Yang melayarkan doa-doa sunyi
Memohonkan kebahagian untukmu, wanita berparas embun
Yang menyemai damai
Kadang menguntai haru dalam hirupan napasku

Engkau, aku, di ruang gerimis
Adalah sepotong kisah
Yang berharap jadi sepasang kekasih
Menyebarkan dan menyuburkan benih-benih cinta


Jogja, 2014

Puisi-puisiku biasa-biasa saja ya, Dev? Hehe. Tapi itu aku tulis dengan ketulusan. Oya, barangkali kamu (lebih) suka puisi-puisinya Gus Mus.

Baik, kali ini, aku cantumkan satu puisinya Gus Mus di sini…
Perkenankanlah Aku Mencintaimu

Perkenankanlah aku mencintaimu
seperti ini
tanpa kekecewaan yang berarti
harapan-harapan yang setiap kali
dikecewakan kenyataan
biarlah dibayar oleh harapan-harapan
baru yang menjanjikan
Perkenankanlah aku mencintaimu
semampuku
menyebut-nyebut namamu
dalam kesendirian pun lumayan
berdiri di depan pintumu tanpa harapan
kau membukakannya pun terasa nyaman
sekali-kali membayangkan kau memperhatikanku
pun cukup memuaskan
perkenankanlah aku mencintaimu sebisaku

2000

Semakin mendekati hari ulang tahunmu, entah kenapa ada saja inspirasi yang hadir sehingga aku bisa menulis puisi—tentangmu. Beberapa kali, kau hadir pula dalam mimpiku. Dalam mimpi, aku pernah bertemu tak sengaja denganmu di masjid kampus, saat acara buka bersama. Terakhir aku bermimpi bertemu denganmu di alun-alun kota. Kita naik sepeda bersama. Aku di depan menggowes, kau membonceng di belakang. Kita berputar-putar mengelilingi alun-alun.
Puisi-puisi dari jemariku kembali mengalir deras…
Rindu yang Bertamu

Kau kerap hadir dalam mimpi malam
Kapan kau hadir lagi dalam nyata siang?

Sudah sekian lama tak jumpa, rindu semakin berlumut
Ketika diriku mulai melupa, acap kali wajahmu menggelayut

Aku tak mengundang, namun rindu itu hadir begitu saja
Rindu itu menyebut-nyebut namamu
Senada dengan jantung yang berdenyut dan jiwa yang bergetar

Angin yang menerpa wajahku terasa dingin
Apakah kau bisa menghangatkannya?
Waktu-waktu yang kuhadapi seperti membeku
Apakah kau bisa mencairkannya?


Jogja, 17 November 2016

Kembara Rindu

Saat kakiku melangkah 
berpisah darimu
Sampai ke tengah jalan, 
langit mengundang mendung
Tangan-tangan hujan memukul wajahku
Seluruh tubuhku basah kuyup oleh rindu
Ketika jalanan gelap 
dan udara makin dingin
Masih saja wajahmu terlintas 
jelas di benakku
Senyummu masih terlukis
Merekah indah
Bagai lentera yang menerangi perjalanan
dan menghangatkan kesunyian jiwa
Jogja, 16 November 2016

Hujan [2]

Musik hujan mengiringi kenangan
yang menari-nari
Lagunya berjudul namamu, kekasih
Kaulah yang ada dalam cahaya
Bersama butir-butir hujan
yang menghanyutkan rindu
Aku duduk sendiri di beranda
Menulis puisi-puisi untukmu
Membaca puisi-puisi untukmu
: semoga kau dengar seorang yang
paling mencintaimu dengan tulus

Jogja, 30 November 2016

Di Titik Terjauh

Di titik terjauh 
Getar rindu semakin terasa

Daun-daun yang luruh
Menyerahkan seluruh jiwanya
Pada tanganmu yang mengobarkan cinta

Aku kirim sajak dari negeri seberang
Ke mana pun aku pergi, ke mana pun aku menjauh
Kaulah alamat rinduku berpulang

Jogja, 1 Desember 2016

Itulah sebagian catatan dan puisi yang coba aku bagikan kepadamu. Aku belum pintar menulis. Kalau Devi mau memberi kritik dan saran juga boleh.  Hehe.
Lewat surat ini pula, aku sisipkan sebuah hadiah kecil. Buku kumpulan puisi “Aku Manusia” karya Gus Mus. Semoga kau suka…
Mungkin, sampai di sini dulu suratku, duhai wanita berparas embun. :)
Aku mencintaimu. Aku menyayangimu.

Maaf jika selama ini aku ada salah. Maaf jika dalam surat ini ada yang membuatmu kurang nyaman.
Inilah kejujuranku.

Semoga kau bisa membalas suratku. :)

Angka 13 dan Tiket Bioskop

“Orang-orang yang jatuh cinta terkadang terbelenggu oleh ilusi yang diciptakan oleh dirinya sendiri. Ia tak kuasa lagi membedakan mana yang benar-benar nyata, mana yang hasil kreasi hatinya yang sedang memendam rindu. Kejadian-kejadian kecil, cukup sudah untuk membuatnya senang. Merasa seolah-olah itu kabar baik. Padahal saat itu ia tahu kalau itu hanya bualan perasaannya, maka saat itulah hatinya akan hancur berkeping-keping. Patah hati!” (Dalam cerpen ‘Berjuta Rasanya’, Tere Liye).
***

Selain pernah membaca buku Berjuta Rasanya, aku juga pernah membaca buku 13 Wasiat Terlarang. Dua buku yang menarik dan berbeda 'aliran'. Selepas itu, aku mulai menepis mitos angka 13 yang dibenci sebagian orang. Angka 13 bisa jadi sebuah keberuntungan, tergantung kita saja yang memaknainya.

Lalu, takdir baik beberapa kali mempertemukanku pada angka 13. Kuliah di UIN Suka itu takdir baikku. Aku ada upaya kuliah di tahun 2012, namun belum berhasil. Ternyata, aku berjodoh dengan UIN Suka pada tahun berikutnya, 2013.

Lalu, semestinya aku ikut event Kampus Fiksi angkatan 14. Entah kenapa, takdir atau skenario Tuhan membuatku masuk ke angkatan 13. 13 yang konon adalah angka sial tak terbukti padaku. Aku malah beruntung. Salah satunya mengenal seorang perempuan multitalenta yang sekaligus ramah dan rendah hati. Kebetulan namanya seperti namamu. Ini bukan berarti aku jatuh cinta padanya. Namun, sekadar kagum dan diam-diam aku belajar padanya. Belajar dari cara dia bersikap. Belajar dari pemikiran dan hal-hal yang melekat padanya. Mungkin dia tidak tahu kalau dia telah membuatku terinspirasi.

Lalu, Selasa kemarin kita nonton film di Sinema 21 Amplaz. Sudah terlambat 13 menitan kita baru antri tiket. Aku menyerahkan sepenuhnya padamu untuk memilih tempat duduk. Lalu kita sepakat memilih sepaket tempat duduk di tengah yang memang masih kosong, strategis pula. Aku duduk di kursi F 14, apakah jodohku di F 13, atau pergi ke mana? Kau duduk di F 13 dengan rileks dan memandang ke depan dengan wajah yang indah.

Kita ketinggalan jalan cerita film sekira 20 menitan. Aku senang berada di sampingmu, lebih senang lagi karena kamu sangat menikmati film ini. Usai nonton, kita jalan pulang sembari bercerita dan berkomentar soal film yang baru selesai kita tonton. "Terima kasih ya, Amri. Filmnya bagus banget. Sangat menginspirasi. Aku gak mau ketinggalan satu adegan pun," ucapmu. Aku mengangguk dan senang melihat senyummu yang mengembang. Itu adalah senyum yang berharga dan bermakna.

Oya, terakhir kita nonton bersama juga di tempat ini, pada dua tahun yang lalu. Aku sebenarnya tipe orang yang tidak terlalu antusias untuk nonton film di bioskop. Kalau aku mau main ke tempat mewah, kadang aku bertanya pada diriku sendiri, "Ayah-ibuku sedang apa yah di rumah? Apakah mereka cemas dan terburu-buru karena ada pekerjaan menjahit yang belum selesai. Adik-adikku sedang apa yah? Apakah mereka punya uang buat beli jajan?".

De, kau tahu kenapa aku mau mentraktirmu nonton film ini? Sebab, aku yakin kau sangat suka film ini sebagaimana dulu kau antusias untuk menonton film "99 Cahaya di Langit Eropa". Aku juga tertarik menyaksikan film ini karena sudah dua kali mengikuti screening-nya di GSP UGM dan Auditorium UNY. Saat di UGM, bahkan aku dapat doorprize novel "Bulan Terbelah di Langit Amerika" dan diajak berfoto bersama penulis dan pemaran utama filmnya. Saat di UNY, aku ikut acara workhshop kepenulisan yang dinarasumberi Hanum Salsabila Rais. Tiket masuk acara tersebut aku diberi gratis oleh Muza. Maka aku merasa 'tega' bila tak sampai menonton film ini. Aku malas bila berangkat nonton sendiri. Aku butuh teman. Selain itu, aku perlu berbagi kebaikan sebab sedari kemarin aku telah dapat banyak 'keberuntungan'. Kenapa tak ajak Muza? Aku lihat dia sedang sibuk. Kapan-kapan lah, kalau memungkinan kita nonton bertiga...


Hadiah yang Indah

Hadiah yang Indah

Langit berjubah mendung. Tak lama kemudian awan-awan meneteskan butir-butir gerimis. Bumi Jogja bermandi air hujan di sore hari. Beruntung aku membawa payung, karena tadi pagi juga hujan. Usai mata kuliah PKn, semua anak Komunikasi Penyiaran Islam (KPI) C berhambur ke luar kelas. Aku menuruni tangga dari lantai tiga. Di koridor bawah aku melihat Risa sedang duduk di bangku sendirian.
“Nunggu, siapa, Risa?” tanyaku pada wanita berjilbab biru muda itu.
“Nunggu hujan reda,” jawabnya santai. Suaranya hampir tak terdengar, diredam gemuruh suara hujan.
“Jalan bareng , yuk! Aku bawa payung,” tanganku membuka resleting tas, menjumput gagang payung, kemudian memekarkannya.
“Wah... kebetulan nih. Iya boleh, aku ikut nebeng,” sahutnya sumringah. Senyum merekah di bibirnya. Indah.
Risa adalah kawan baruku, dia jurusan Ilmu Kesejahteraan Sosial (IKS). Aku mengenalnya tiga minggu lalu saat diklat LPM Rhetor. Tiap pekan kita bertemu dalam diskusi redaksi.
Kami berdua berjalan sejajar. Bernaung di bawah payung hijau. Irama gerimis terdengar merdu. Kawan-kawanku yang lain juga ada yang membawa payung untuk pulang dari kampus. Beberapa mengenakan mantel untuk menerjang gerimis yang masih betah bersenandung.
“Fahri, kosmu di mana,” Risa bertanya.
“Di jalan Suroto, dekat perpus kota,” jawabku.
“Kalau aku di Lempuyangan, tinggal dirumah Bu Dhe-ku,” dia mengusap pipi putihnya yang terciprati rerintik air.

“Sa, apa kamu suka hujan?” tanyaku.
“Tentu. Hujan itu tamu yang baik. Saat hujan datang, doa manusia akan diijabah. Mungkin Tuhan tahu, kita ini terlalu sibuk dan jarang berdoa. Dia berbaik hati dengan memerintahkan miliaran butir-butir air untuk terjun ke bumi. Alasannya agar manusia tidak dulu banyak kesibukan, berteduh sejenak, atau rehat di rumah, merenung dan memanjatkan doa-doa yang baik,” urai Risa. Panjang lebar namun asyik disimak.
“Benar, katamu. Sayangnya ada saja yang tidak bermunajat malah ia berkeluh kesah dan jengkel pada hujan yang tak berdosa,” sahutku.
Kami terus berbincang sambil berjalan. Aku merasa nyaman dan senang bersamanya. Langkah kaki kami telah sampai di Halte Trans Jogja. Risa keluar dari payungku dan mengucapkan terima kasih. “Aku duluan, ya!” tukasku padanya. Ia mengangguk dan menguntai senyum. Manis sekali. Lalu aku menyeberang jalan. Melanjutkan gerak kaki untuk sampai ke kos.
*
Hari Selasa hanya ada satu mata kuliah. Kini aku berada di perpustakaan kampus. Suasana nyaman dan sejuk. Banyak mahasiswa di sini khusyuk membaca. Beberapa yang lain berdiskusi mengerjakan tugas kelompok.
Di lantai dua, aku masuk ke ruang serial, mengambil surat kabar. Aku duduk di kursi empuk dan membaca rubrik Suara Kampus. Kursi di sebelah kiriku yang berjarak lima puluh senti berdecit pelan. Ada seseorang yang menarik punggung kursi lalu ia duduk dipangkuannya. Kepalaku menoleh. Aih... aku tak asing dengan wajahnya.
“Hai, Sa, sedang baca apa?” aku menyapa duluan.
“Ini, majalah sastra. Kau di sini rupanya?!” muka Risa menghadap ke mukaku. Kedua mataku bisa menangkap sempurna wajahnya yang berhias senyum. Lesung pipitnya terbit di kanan-kiri wajah ramahnya. Kau seperti bidadari yang cantik, yang anggun, Risa.

“Eh... iya,” hampir dua puluh detik kata itu baru terucap. “Sa, sastrawan yang kau sukai siapa?” lanjutku.

“Aku suka Ahmad Tohari. Kalau penulis masa kini aku suka Tere Liye,” jawabnya, sambil membalik halaman majalah. “Oh iya, aku juga suka kamu,” Aduhai... aku senang mendengar kalimat ini. Kenapa jantungku berdebar? Perasaan macam apakah ini? Hei, Fahri dengarlah ucapan gadis jelita itu secara lengkap. Tangkap maknanya dengan objektif. “...suka karyamu. Puisimu minggu lalu dimuat surat kabar, kan?” tanyanya.
“Iya,” suaraku pelan. Mukaku perlahan memerah. Di hati ada rasa sungkan, namun juga senang.
            “Waktu SMA aku juga pernah baca puisimu yang dimuat majalah sastra ini. Puisimu ringkas namun kaya makna, bahasa puitismu khas, indah,” ia menunjukkan kaver majalah itu padaku. Tuhan, ternyata dulu Kau telah mempertemukan aku dengan dia lewat sajak yang sederhana. Terima kasih.
“Terima kasih atas apresiasinya, Risa,” responku. Aku beralih bertanya, “Kau pernah baca buku kumpulan cerpen Berjuta Rasanya... punya Tere Liye?”
“Belum. Aku baru baca novel-novelnya dia,” tandasnya.
Kalau begitu, aku ingin memberikan hadiah buku itu untukmu. Bisikku di benak.
*
Di tanah rantau ini, wajar bila aku harus berjiwa mandiri. Aku telah dewasa, tak ingin orangtuaku mengirimi uang untuk biaya hidup dan kuliahku. Aku kerja part-time di tempat foto kopian dekat kampus. Sekarang masih tanggal muda, baru kemarin aku terima gajian. Aku sudah membeli buku baru: kumpulan cerpen Berjuta Rasanya. Kebetulan Buku bagus ini akan kujadikan hadiah istimewa buat Risa, meski tanggal kini tidak jatuh sebagai hari ulang tahunnya. Menurutku, memberi hadiah itu tak perlu menunggu satu tahun atau mesti di tanggal dan bulan yang diagungkan kebanyakan orang.

Aku telah mengirim SMS pada Risa agar kita ketemuan di depan gedung Multy Purpose pukul 16.40. Pemandangan sore ini di kampus adalah mahasiswa berlintasan hendak pulang. Ada yang mengendarai motor sendirian, berboncengan dengan teman, dijemput orangtua. Ada yang bersepeda, menunggu bus, jalan kaki—termasuk aku, dan ada yang masih duduk-duduk di bangku melingkar di bawah pohon beringin besar. Ada yang antri membeli es, siomay, batagor dan yang lain.
Langkah kakiku berbeda dengan teman-teman yang lain, nampak tergesa dan gelisah. Apa pasal? Aku terlambat lima belas menit atas “jadwal bertemu” dengan Risa yang telah dijanjikan. Aku merasa tak enak hati membuat dia jadi menunggu.
“Maaf, Sa, baru bisa sampai sini,” ucapku sembari mengusap peluh di pipi kanan.
“Tak masalah,” sahutnya santai, mukanya tetap berseri, senyumnya terkulum. Lalu aku duduk di sebelah Risa, di bangku bawah pohon beringin yang berangin segar. Aku mengatur nafas, mendamaikan rusuh di hati dan menata diri.
“Sebenarnya aku mau memberimu sesuatu yang aku kira kau akan menyukainya. Tapi maaf, Sa, mungkin karna aku teledor, barang itu hilang. Tadi aku sempat mencarinya lama, namun tak kunjung ketemu,” jelasku pada wanita di sebelah kiriku. “Mungkin besok bisa kutemukan.”
Bibir Risa membentuk pelangi yang terbalik, senyum yang terbaik. Ajaib. “Wah... terima kasih Fahri atas niat baikmu. Aku jadi terharu,” Dia tertawa kecil, mencairkan suasana—hatiku. “Nampaknya senja sudah sampai di depan beranda rumah, Fahri. Sebentar lagi ia menutup pintu dan menyembunyikan cahayanya. Yuk, kita pulang!” indah nian nan santun sekali kata-katamu, Risa.
“Ayo...” jawabku bergairah. Aku dan dia bangkit berdiri, berjalan bersampingan. Bersamnya aku merasa nyaman dan senang. Belum sukses aku memberi hadiah padanya namun Risa sudah memberiku hadiah yang indah. Hadiah yang tak berupa benda yang dapat dipegang kedua tanganku. Hadiah itu adalah senyum manisnya, sikap anggun-ramahnya, kata-kata santun nan bermaknanya yang hanya bisa di sentuh tangan-hati. Tuhan, aku ingin ada perjumpaan dan perbincangan selanjutnya dengan dia: Risa. Munajatku dalam kalbu, memanjat ke langit dan menutup senja hari ini.

***
Write here, about you and your blog.
 
Copyright 2009 Menulis dan Mengekalkan Kenangan All rights reserved.
Free Blogger Templates by DeluxeTemplates.net
Wordpress Theme by EZwpthemes
Blogger Templates