RSS
Tampilkan postingan dengan label RENUNGAN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label RENUNGAN. Tampilkan semua postingan
AKU TIDAK INGIN MENGHANCURKAN CITA-CITA YANG TELAH TERBANGUN

Ada seorang perempuan yang berhasil merebut hatiku. Namanya Devi. Aku pun mencintainya begitu tulus. Aku pernah beberapa kali memberi hadiah buku untuknya. Aku pernah dua kali nonton film di bioskop bersamanya. Aku telah menulis lebih dari 100 puisi untuknya. Aku sungguh-sungguh mencintainya. Selama tujuh semester aku menyimpan perasaan ini.
Aku memutuskan untuk menyatakan cinta kepadanya. Sebab, sebentar lagi sepertinya kita akan saling berpisah dari kampus. Devi mungkin akan lanjut S2 ke luar negeri. Aku akan masih di Jogja dalam satu tahun ke depan.
“Anggap saja saya sebagai orang yang hanya menginspirasi.” Itu jawaban Devi saat aku mengatakan, “Aku mencintaimu. Tapi jika perasaan ini menurutmu salah atau kau sudah bersama seorang lelaki pilihanmu yang lain, aku harus menjauh dan menghilangkan rasa ini.” Anggap saja dia menolak cintaku.
Sedih memang jika dia tidak memiliki rasa yang sama denganku. Tapi, aku harus berusaha rela dan lapang dada. Memang sejak mendapat jawaban itu, aku jadi sering galau. Malam-malamku terganggu oleh bayangannya. Aktivitas kerja di siang hari pun menjadi tidak fokus dan tidak produktif.
Hari Rabu, 8 Desember 2016 adalah hari ulang tahunnya. Sejak hari itu sampai 10 hari ke berikutnya pikiranku benar-benar kacau. Kala itu aku pernah berusaha untuk tidak menghubunginya lagi, namun aku gagal. Aku dapat informasi, pihak kemahasiswaan sudah menyiapkan beasiswa dan sedang mencari lima orang mahasiswa yang hafiz minimal 10 juz sebagai calon penerimanya. Aku kira Devi memenuhi syarat. Bahkan aku dapat kabar dari teman pondoknya kalau dia sudah hafal 30 juz Al Quran. Kekagumanku padanya semakin berlipat. Aku mengajak Devi berkomunikasi lewat BBM dan WA agar dia ikut mendaftar lowongan beasiswa tersebut.
Ah, aku terlalu memikirkan dia! Sudah lah, bersikap wajar saja! Aku memang masih mencintai dia. Tapi sepertinya bukan hal yang benar bila aku terus-terus memikirkan dia. Sementara dia juga tidak terlalu ‘antuias’ jika diajak bicara.
Aku sudah berusaha menyayangi dia, membantu dia, semaksimal mungkin. Apa ini yang namanya ‘mencintai dengan cara yang bodoh’? Bahkan, urusan-urusan pentingku jadi terganggu karena hal ‘sepele’ ini.
Baiklah, harusnya aku mencintai sewajarnya. Jangan berlebih. Atau anggap saja Devi tidak mencintaimu. Satatement ini dibuat agar aku tidak terlalu berharap padanya. Berharap itu menyakitkan, jika tidak sesuai dengan kenyataan yang ada.
Aku harus kembali ke jalan jomblo yang benar. Aku harus melupakan semua wanita untuk sementara waktu.
Gara-gara mikirin wanita, aku mengabaikan pekerjaan-pekerjaan pentingku. Aku harus segera sadar. Aku tidak ingin menghancurkan cita-cita yang telah terbangun.
Aku juga harus sadar bahwa aku ini pemuda bodoh dan miskin. Aku harus belajar, aku harus berkarya, aku harus kaya. Selama ini aku pun yang dijadikan tulung punggung keluarga. Aku membayar biaya sekolah adik dan membantu nyicil utang orangtua. Aku harus fokus bekerja lagi. Tidak perlu dapat semangat dari seorang wanita baru mau bekerja. Cukup keluarga yang jadi penyemangat. Kalau ada masalah, berodalah kepada yang Maha Kuasa.
Aku harus fokus ke karir. Target omzet 100 juta per bulan dari bisnis jualan buku online harus dikejar lagi. Jika karir sukses, aku bisa membantu keluarga lebih maksimal lagi. Aku juga bisa beli motor lagi, sehingga semakin memudahkan mobilitas kerja. Aku jadi bisa rekrut karyawan lagi, bisa meengembangkan bisnis lagi. Misalnya, aku jadi bisa ngontrak di tempat yang lebih luas dan strategis. Bisa menambah usaha jasa ekspedisi, angkringan, dll. Bisa membangun rumah baca, menghidupi komunitas literasi, dll.

Daripada buang-buang waktu karena galau, lebih baik gunakan waktu untuk baca buku, menulis, mengembangkan bisnis, silaturahim, jalan-jalan, dlsb. Aku tidak boleh terpuruk, meratap, menangis dan ambruk di kamar. Aku harus bangkit, pergi keluar, bekerja atau mencari kesibukan yang positif.

Jogja, 18 Desember 2016

Aku Mencintaimu, Puisiku

Selamat Ulang Tahun, Puisiku

Selamat ulang tahun, Puisiku
Semoga kau berbahagia
Semoga kau selalu tumbuh
menjadi puisi-puisi yang meneduhkan jiwa
Semoga kau menjadi puisi-puisi yang mampu
membasuhbersihkan kalbu yang berdebu
Semoga kau selalu dicintai Sang Kekasih
yang cintanya sebening embun

Selamat ulang tahun, Puisiku
Semoga kau semakin bercahaya
Terima kasih atas sejuta pelangi
yang kau kirim-masukkan ke dalam langit dadaku
Semoga kau selalu memberikan warna 
kepada jiwa yang sedang mendung
Semoga Kau selalu dicintai Sang Kekasih
yang kasih sayangnya setulus cahaya mentari.

Jogja, 8 Desember 2016
***

Puisi di atas aku tulis sebagai hadiah ulang tahun untuk sahabat-perempuanku. Dia adalah seorang perempuan yang telah menggetarkan hatiku dan menggerakkan tanganku menulis lebih dari seratus puisi. Ya, aku telah menulis puisi lumayan banyak tentangnya. Sehingga aku ibaratkan dia adalah Puisiku.

Dalam bait-bait puisi di atas, aku menyematkan doa-doa untuk dia—Puisiku. Semoga dia berbahagia di usianya yang terus beranjak dewasa. Semoga dia semakin bercahaya. Bercahaya karena perilakunya yang baik dan prestasinya yang melejit.

Aku tidak meminta apa-apa dari Puisiku. Namun, aku rasa, dia telah memberikan ilham dalam hidupku. Maka dari bait-bait puisi diatas aku menuliskan: Terima kasih atas sejuta pelangi // yang kau kirim-masukkan ke dalam langit dadaku. Wajah pelangi itu telah memberikan warna yang indah ke dalam jiwaku. Semoga dia selalu menghadirkan warna yang indah dan bisa menghibur pemilik hati yang sedang sedih: entah itu sahabatnya, saudaranya, keluarganya atau siapapun dia.

Dari puisi-puisi yang telah aku tulis, aku kembali bercermin, merenung dan belajar. Aku menemukan keteduhan jiwa, kedamain hati dan kebahagiaan yang bersahaja dari puisi-puisi yang ditulis dengan tulus. Puisiku, semoga kau mampu meneduhkan jiwa setiap manusia yang mengenalmu. Dengan menyimak kembali puisi-puisiku, aku merasa perlu kembali menata hati. Aku mesti membersihkan kalbu yang berdebu.

Puisiku, aku telah jatuh cinta kepadamu. Aku telah menyimpan perasaan ini lebih dari tiga tahun. Namun, dalam puisi spesial ulang ulang tahunnya, aku kurang berani menyatakan cintaku. Aku lebih memilih menulis: Semoga kau selalu dicintai Sang Kekasih // yang cintanya sebening embun // Semoga kau selalu dicintai Sang Kekasih // yang kasih sayangnya setulus cahaya mentari. Sebesar apapun cintaku padanya, tentu lebih besar cinta Tuhan kepadanya. Bila aku berusaha mencintainya dengan sebenar-benarnya cinta dan dengan setulus-tulusnya cinta, tentu itu baru sedikit pancaran cinta Tuhan kepadanya. Masih banyak lagi pihak-pihak yang juga diutus Tuhan untuk memancarkan cinta-Nya kepada dia—Puisiku.

Aku mencintaimu, Puisiku. Aku berharap dia menerima cintaku. Sepanjang hidupku, baru sekali ini aku menyampaikan perasaan kepada seorang perempuan. Penyampain ini sebetulnya tidak buru-buru. Sebelumnya aku selalu menyimpan rapat-rapat kalimat ini—selama tiga tahun lebih. Meski aku sangat jarang bertemu dengannya, tapi dialah seorang perempuan yang kerap hadir dalam mimpi malamku. Saat ini sepertinya waktu akan menunjukkan jawaban: aku dan dia akan berpisah lama—atau selamanya? Sebelum aku dan dia berpisah lama dan sukar bertemu lagi, aku telah menyampaikan kejujuran perasaanku: Aku mencintaimu, Puisiku. Aku ingin dia jadi kekasih sejatiku. Namun dia memberikan jawaban yang ‘sangat bijak’. Jawaban yang harus aku terjemahkan sendiri—apa aku bisa menerjemahkan dengan benar?


Aku mencintainya. Apa dia juga mencintaiku? Entahlah! Tapi yang jelas, Tuhan lebih mecintainya. Dari siapapun yang kuharap cintanya, hanya Tuhan jua yang paling mencintaiku.
***

Jogja, 9-10 Desember 2016

Kami Nyaris Tak Punya Apa-Apa

Kami Nyaris Tak Punya Apa-Apa

Dulu, aku masuk SD saat usia tujuh tahun. Aku baru masuk sekolah setelah teman-teman kelas 1 sudah masuk satu minggu. Hari pertama berangkat sekolah, aku diantar ayah dengan sepeda, aku membonceng di belakang dengan telanjang kaki. Aku berseragam merah putih yang baru saja selesai di jahit tadi pagi. Aku menggendong tas lungsuran kakakku.

Saat kelas 3, kelasku pernah masuk siang pulang sore—sebab gantian dengan kelas lain, ada bangunan kelas yang sedang direnovasi. Pernah di sebuah pagi, masakan di rumah belum tersaji. Aku berangkat sekolah dengan perut kosong. Sekira jam dua siang, di kursi bagian belakang aku menggeliat. Tanganku memegangi perut yang keroncongan. Aku menahan perih dan merintih pelan. Aku menahan rasa lapar. Saat Pak Guru masih menerangkan pelajaran, tetiba sebuah kata meluncur dari mulutku, “kenchot!” Teman-teman tertawa. Aku malu. Selepas insiden itu, kadang ada seorang teman kelas yang memberiku uang seratus atau dua ratus rupiah—untuk jajan. 

Dalam cerita yang lain, ketika teman-teman dibelikan baju/seragam batik yang biasa dikenakan pada hari Rabu dan Kamis, orangtuaku menjadi yang terakhir membelikan baju batik—setelah beberapa bulan. Meski ayahku penjahit, ternyata itu tak lantas membuatku tiap tahun selalu punya seragam baru. Pernah, selama dua tahun aku memakai celana merah tipis. Beberapa kali celana itu bolong. Bolong lalu ditambal, bolong lagi, ditambal lagi. Pernah teman perempuan mengatakan, “Amin anake tukang jahit, tapi katoke bolong, tambalan thok!”. Aku tidak marah dan meresponnya. Aku hanya melanjutkan aktivitasku dan menanggung malu.

Aku lulus SD tahun 2005 dengan NEM 40,96. Kala itu ranking dua di kelasku 35 koma sekian (kalau tak keliru ingat). Aku kelas 7 SMP sudah memiliki adik enam. Aku masuk ke SMP Negeri di kotaku. Aku tinggal beberapa kali di rumah saudara. Saat SMP saya pernah cari uang jajan dengan bantu-bantu di toko material, pernah jadi joki penerbang burung merpati. Aku pernah juga jualan stiker. Ngamen bersama teman juga pernah aku lakoni. Saat di SMP, aku sempat merasa hampa. Sempat berujar, “kayanya lebih baik aku mondok di pesantren saja, bisa ngaji, meski nantinya sekolah di SMP swasta.”

Aku lulus SMP Tahun 2008. Aku senang. Aku mudik ke kampung halaman. Menikmati libur panjang. Suatu sore saat aku sedang asyik-asyiknya bermain, adikku memanggil, katanya aku disuruh pulang menemui ayah. Aku duduk di di samping ayahku yang sedang menjahit baju pelanggan. Ibu juga ada di rumah, ikut membantu menggarap jahitan. Ayahku mulai bercerita dan memberikan nasihat-nasihat. Sampailah beliau berujar, “Amin, kamu sekolahnya libur dulu satu tahun ya. Adik-adikmu biaya sekolahnya juga banyak banget. Nanti kalau ada rezeki, kamu masuk SMA-nya tahun depan.” Aku hanya mengangguk. Menurut. Agak sedih, tapi aku menerima kenyataan ini.

Saat teman-teman alumni SD dan SMP-ku menikmati masa-masa sekolah di SMA, SMK dan MA, aku menikmati pekerjaan sebagai karyawan toko mainan anak dan assesoris di pasar kecamatan. Gaji bulan pertamaku Rp. 225.000 (dua ratus dua puluh lima ribu rupiah). Kerja dari jam 7 pagi, pulang jam 5 sore. Tiap gajian, yang selalu tergambar di benakku adalah mengalokasikan uang itu untuk membeli buku bacaan. Salah satu buku yang aku beli yaitu buku Persiapan UN SMA IPA 2008.

Setahun berlalu. Aku melanjutkan studi di MAN di kabupatenku. Aku sekolah di sini dengan dibiayi oleh ayah angkat. Saat kelas 11 aku mengambil jurusan IPA. Meski jurusan IPA, aku malah lebih sering membaca sastra. Aku juga sering menulis untuk di kirim ke media massa. Tulisanku seperti puisi, cerpen dan berita pernah dimuat di koran dan majalah. Saat aku lulus, salah satu adik kelasku mengabari kalau salah satu puisiku dijadikan bahan soal Ujian Bahasa Indonesia MA Kabupaten Cilacap.

Lulus dari MAN, aku mendaftar SBMPTN jalur bidikmisi dan tidak lolos. Karena ingin kuliah dengan beasiswa, aku coba daftar Ujian Mandiri jalur Bidikmisi di kampus negeri di Semarang. Sebagian biaya berangkat dari Cilacap ke Semarang diperoleh dari pinjaman seorang guru. Sayang, saat pengumuman, aku masih belum lolos. Aku akhirnya memilih jeda studi dulu satu tahun. Aku langsung aktif mencari pekerjaan. Usiaku telah dewasa. Aku sudah siap mencari uang. Aku tak ingin lagi merepotkan orangtua. 

Setelah beberapa kali mencari pekerjaan ini-itu, mendatangi tempat ini-itu, mendatangi orang ini-itu, akhirnya aku mantap memilih kerja sebagai loper koran. Tiap hari aku masuk ke pasar-pasar, rumah-rumah, toko-toko, kantor-kantor dan tempat keramaian lainnya: menawarkan jualan koran ke sebanyak mungkin orang. Biasanya berangkat meloper jam 7 pagi, pulang jam 2 siang. Ternyata penghasilan jualan koran lumayan. Sebulan bisa dapat sekitar 3 juta. Dari hasil kerja kerasku itu, aku mulai bisa sedikit membantu perekonomian keluarga. Aku ikut urun modal untuk buat warung kecil di rumah kontrakan. Sebagian uang penghasilanku juga dipakai ayah untuk membeli TV bekas. Selama bertahun-tahun keluarga jika mau nonton TV hanya bisa numpang ke rumah tetangga atau saudara. Baru akhir tahun 2012, keluargaku punya TV sendiri. Sebagian uang yang aku tabung juga aku niati untuk biaya kuliah kelak.

Tahun 2013 aku ikut SBMPTN dan diterima di pilihan pertama: Komunikasi dan Penyiaran Islam, UIN Sunan Kalijaga. Aku masuk PTN bukan lewat jalur beasiswa. Otomatis aku harus berjibaku untuk bisa membiayai kuliah sendiri. Sama sekali aku tak meminta ataupun mendapat kiriman dana dari orangtua. Aku pernah jualan kaos kaki, nasi rames dan gorengan. Sampai akhirnya aku konsisten jualan buku via online. Awal memulai jualan sangat penuh perjuangan. Alat yang aku punya hanya HP Smartfren yang harganya 250 ribuan. Buat online lambat dan kualitas fotonya kurang bagus. Kadang aku online buat jualan dengan pinjam laptop teman. Kadang online di warnet dan komputer perpustakaan.

Berkat kerja keras, ketekunan dan kesabaran, semakin lama aku berhasil mendapat banyak pelanggan. Kini setiap bulannya, aku bisa menjual lebih dari 1000 buku. Di samping itu, aku juga memiliki 40-an reseller dari beragam latar belakang (siswa SMA, mahasiswa, guru, dosen dan orang umum) dan dari berbagai daerah (Jambi, Padang, Jakarta, Tangerang, Cianjur, Cilacap, Salatiga, Jogja, Tuban, Bojonegoro, Surabaya, Makassar dan lain-lain). Selain telah mengirim buku-buku ke pelosok-pelosok negeri, aku juga cukup sering mengirim buku ke luar negeri (Singapura, Malaysia, Brunai Darussalam, Thailand, Taiwan dan Hong Kong).
Gambaran kesuksesan jualan buku online-ku ini ternyata menarik minat beberapa teman dan wartawan untuk menulis dan meliput kiprahku. Profilku pernah diliput Kedaulatan Rakyat, Tribun Jogja, edupost.co.id, brilio.net, Net TV, dan lain-lain. Hal ini pun ternyata ‘menarik perhatian’ teman-temanku. Sebagian temanku berdatangan menghampiriku saat mereka butuh untuk pinjam uang. Sudah puluhan temanku meminjam duit. Ada yang cepat mengembalikan ada pula yang lambat. Ada yang berbulan-bulan belum mengembalikan, ada yang satu tahun lebih belum mengembalikan (saya sudah capek menagihnya).

Aku mau meminjami teman, sebab aku juga pernah pinjam uang ke teman. Namun aku selalu berkomitmen untuk melunasinya secepat mungkin. Dan tahukah, kau sahabat? Di posisiku yang sekarang ini, di belakangku, di dalam keluargaku, orangtuaku telah menanggung utang sekitar 100 juta. Terdiri dari utang ke bank, BMT ini-itu, rentenir ini-itu, tetangga, saudara dan lain-lain. “Teman, aku yang pernah meminjami uang padamu, ternyata aku adalah orang yang nyaris tak punya apa-apa. Ternyata orangtuaku juga punya utang yang lebih besar (bahkan sangat besar) dari utangmu.” Orangtuaku adalah yang termiskin pertama di desa. Rumahku beberapa bulan lalu pernah roboh. Dan kini, orangtuaku mengumumkan akan menjual tanah untuk melunasi utang yang segunung. Tanah yang luasnya tak seberapa, akan dijual. Itulah harta kami yang paling berharga. Kami tidak punya sawah. Dan kini orangtuaku akan menjual tanah. Kami nyaris tidak punya apa-apa. Inilah episode paling getir dalam hidupku. Aku yang masih punya ayah-ibu, dua kakak dan enam adik: akan tinggal di mana dan akan hidup bagaimana?

Aku paham masalah utang yang sangat melilit dan menyakitkan keluarga kami. Maka aku berusaha bekerja keras. Aku punya cita-cita penghasilan yang tinggi untuk ikut membantu perekonomian keluarga. Kini kau jadi tak heran kan kalau aku pernah menulis target omzet 100 juta per bulan? Salah satu alasannya karena aku ingin membantu membebaskan utang-utang orangtua. Mohon doanya ya...

Ini adalah episode paling getir dalam hidupku. Ini adalah episode yang membuatku menitikan airmata. Aku sedih, sejenak. Aku bangun kembali semangat dan optimisme. Aku yakin badai ini akan berlalu. Aku yakin aku dan keluargaku bisa melewati ujian berat ini. Aku masih punya Allah. Kami masih punya Allah. Allah yang Maha Menolong.


Jogja, 12 Juni 2016


OTW Omzet 100 Juta Per Bulan

OTW Omzet 100 Juta Per Bulan


Hari kemarin (Senin, 1 Februari 2016) aku belanja buku sekitar 3,5 juta. Uang 3,5 juta itu terdistribusi ke 9 toko buku yang berbeda (sebenarnya aku masuk ke 11 toko, namun ada 2 toko yang sedang kehabisan stok buku yang aku cari). Buku senilai 3,5 juta aku jual lagi dengan menambah keuntungan, jika semua laku, katakanlah menjadi 3,9 juta. Misal, dalam sebulan aku melakukan transaksi seperti ini sebanyak 20 kali saja, maka omzet penjualanku sebulan mencapai 78 juta (hasil dari 20 kali 3,9 juta). Iya, prediksiku omzetku di bulan Februari berada di angka 78 juta. Ini sebuah angka yang realistis, melihat kondisi penjualan bukuku yang sedang “bagus” dan terus menunjukkan grafik peningkatan (banyak pelanggan yang terus berdatangan dan repeat order). Maka wajar bila aku membuat judul tulisan ini “OTW Omzet 100 Juta Per Bulan”. Artinya, sampai akhir tahun nanti, insyaAllah, omzet 100 juta per bulan akan benar-benar tercapai.

Yuk bicara hal lain...

Kemarin (Senin, 1 Februari 2016), dari pagi sampai malam aku berkeliling kota Yogyakarta, “wisata pustaka”. Masuk dari satu toko buku ke toko buku lainnya. Selain itu aku juga packing paket dan mengirimkannya sendiri (biasanya ada teman yang bantu packing dan kirim paket, tapi dia sedang mudik). Di sela-sela duduk, aku membalasi 20-an lebih chat dari pelanggan dan reseller. Cukup melelahkan. Yang paling melelahkan tentu saat motoran/sepedaan di jalan plus menggendong buku.

Pukul 09.15 aku naik sepeda, mengantar beberapa paket buku ke Agen Pos dan JNE Kopma UIN Suka. Pukul 9.30, aku gowes ambil buku di toko buku timur UIN. Pukul 10.00 aku pinjam motor, bergerak ke toko buku di Jalan Glagah Sari. Terus bergerak lagi ke Taman Pintar, masuk ke beberapa kios buku lantai 1 dan 2. Dari Taman Pintar aku meluncur ke toko buku di Jalan Suroto. Lalu aku pulang ke kos dulu, kemudian kirim paket lagi sekaligus mengembalikan motor teman, sekaligus ambil buku di Toko Buku Kopma. Sampai pukul 14.20 aku menunggu COD buku dengan teman di warung. Sehabis COD, aku berangkat ambil buku lagi dengan gowes, ke toko buku di Jalan Afandi. Selesai dari situ aku pulang. Lepas Magrib (saat hujan gerimis) aku kirim paket buku lagi ke Kopma. Aku berangkat tanpa jas hujan, hanya pakai topi koboi. Lepas Isya aku gowes (masih menerjang rerintik gerimis) ke sebuah mall di Jalan Adisucipto. Aku hendak mengambil pesanan novel bahasa Inggris. Meski saat itu sudah malam, hujan, namun tetap aku ke sana, karena temanku sudah transfer untuk novel itu dan besok pagi aku rencana mudik ke Cilacap. Jadi aku perjuangkan agar novel itu dikirim hari itu juga. Namun sayang, novelnya sudah habis duluan, ada lagi katanya dua minggu-an... Aku gowes sepeda lagi, masih gerimis. Mampir ke Kopma UIN buat bayar kiriman paket dan ambil resi. Lalu gerak pulang, masih gerimis. Sampai kos aku mandi, handukan, berpakaian rapi, wudlu lalu sholat Isya.

Iya, hari itu benar-benar sangat menguras energi. Ini bukan hanya kejadian sekali, namun sudah sering. Betapa perjuanganku amat sangat keras. Wajar, di kelas, saat perkuliahan aku sering terlihat capek dan ngantukan. Ini adalah “Behind The Scene” dari laris manisnya jualan bukuku di sosial media. Mungkin, hanya sedikit orang saja yang tahu di balik aktivitas jualan online-ku. Iya, aku tahu, ada beberapa orang tak tahu jika perjuanganku begitu luar biasa (baca: melelahkan). Meski aku sudah berjuang keras, namun ada yang “kurang” menghargai. Ada beberapa orang transfer pembayaran buku setelah Asyar minta dikirim hari itu juga, maksa lagi. Ada juga pelanggan tiap sebentar chat “sudah dikirim belum”, “dikirim hari ini ya”, “minta no. resinya cepat ya”, “kok ga balas-balas sih”, dan chat-chat yang senada. Tanpa mereka suruh pun, aku sudah berjuang maksimal. Aku tunjukkan salah satu “behind the scene-ku” tanggal 1 Februari 2016 pada mereka: Ini aku sedang di jalan, ini aku sedang packing buku, ini aku sedang ambil buku, ini aku lupa belum makan, ini aku lupa belum mandi, ini aku berjuang demi kamu, ini aku sedang... tapi tak mungkin semua itu aku infokan ke pelanggan di sosial media, itu akan malah menghambat pekerjaan.

Yuk, pindah ke cerita lain lagi...

Saat baru menjadi mahasiswa di UIN, aku pernah dapat pelanggan buku, dia minta COD. Buku itu cukup mahal, sementara uangku tak cukup untuk menebus buku yang masih ada di toko. Aku pinjam ke teman A, B, C, D, E: hasilnya nihil. Setelah bernegoisasi dengan pemilik toko buku, aku diperbolehkan utang dulu. Dulu, nyaris tiap hari aku berkeliling kota, melakukan kayuhan pedal sepeda ribuan kali, menempuh jarak puluhan kilometer, menguras berliter-liter keringat, masuk ke belasan toko dan kios buku (kadang masuk pameran buku). Dulu, ketika dapat pelanggan buku, aku merasa harap-harap cemas. Berharap agar pelanggan segera transfer, cemas bila pelanggan cancel pesanannya. Beberapa kali memang terjadi cancel. Aku hanya bisa berusaha ikhlas, berpikir positif dan fokus cari pelnggan baru Buku-buku yang pernah dicancel itu, ternyata beberapa waktu kemudian ada yang dibeli orang, ada juga yang berbulan-bulan tetap belum laku (sebagiannya lepas segelnya buat dibaca sendiri). Pernah pula ada yang aku resensi, kebetulan dimuat dimuat di koran. Lumayan, honornya tiga kali lipat harga buku yang dicancel pelanggan itu. 

Dulu, aku lebih banyak menunggu pelanggan transfer dulu, baru bukunya aku ambilkan di toko. Kini, aku berani kulakan dulu. Kini, aku menyetok buku-buku yang laris dan (menurutku) itu pasti laku cepat dan banyak peminatnya. Kini, aku berani memborong buku-buku bagus dan” langka” saat ada pameran atau saat menemukan di toko tertentu. Kini, di kamarku (sebagiannya aku titipkan di kos teman) aku memiliki aset buku sekitar 8 juta. Dulu, aku yang utang ke sana-sini pernah gak dapat, kini telah bisa memberi pinjaman ke belasan orang, berkali-kali. Sayang beberapanya susah ditagih, ada yang udah hitung 6 bulan, 12 bulan lebih namun belum mengembalikan. Karena ini, aku jadi harus hati-hati meminjami uang ke orang lain.
Yuk, ke cerita yang lain...
Aku sudah tiga tahun lebih berjualan buku di online. Membangun usaha ini penuh dengan perjuangan dan kesabaran. Kini telah menampakkan buah manisnya. Pelanggan semakin banyak, reseller juga cukup banyak. Maka ini sangat mendongkrak penjualan buku. Prestasiku di bidang penjualan buku tentu dilihat oleh beberapa teman dekat. Ada yang terinspirasi, ada yang mengajak sharing, ada yang mengajak kerja sama, ada yang meliput untuk berita. Nurfi, temanku, mewawancariku yang kemudian beritanya dipublish di edupost.co.id. Ilmi, temanku juga, meliputku juga yang beritanya muncul di lpmarena.co.id. Kemudian berita tentang sepak terjangku di bisnis buku dipublikasikan juga oleh 
Brilio.net, Harian Tribun Jogja, Kedaulatan Rakyat, Wajahkota.com, NET TV, DLL. Salah satu efek dari publikasi ini adalah meningkatkan trust ke banyak orang, yang semula hanya calon pelanggan, kini jadi pelanggan, yang semula mau beli buku ke aku banyak pikir, kini langsung take action untuk beli buku. Efek lainnya itu, banyak orang berdatangan untuk “berkawan” denganku. 

Yuk, pindah cerita...

Meski omzet sudah lumyan namun aku belum beli motor (sekalipun motor second). Ada alasannya, namun tak perlu dibahas panjang. Naik sepeda onthel sambil menggendong puluhan Kg buku dalam tas tentu bukan hal yang ringan. Cukup melelahkan, namun aku masih bisa sabar. Hehe. Naik sepeda itu seperti ada nilai-nilai sosial dan spiritual. Dalam perjalanannya, saat gowes sepeda, imajinasi dan inspiarsi berkelebat dengan mudahnya. Saat bersepeda, aku kerap bisa melakukan permenungan-permenungan tentang hidup... Ada dua pengalaman naik sepeda yang paling terkenang dalam benakku. Yaitu saat hujan gerimis, malam hari, aku naik sepeda ke Studio Pro 2 RRI Jogja untuk lomba baca puisi. Dalam perjalanan pedal sempat lepas, aku perbaiki, lalu gowes lagi. Sampai studio. Aku jadi peserta terakhir yang baca puisi. Aku lolos, masuk final. Saat final aku meraih juara 2 (kisah lengkapnya ada di notes FB 21 Desember 2014). Satu lagi pengalaman naik sepeda yang menggetarkan hati(ku), yaitu saat aku berkeliling toko-toko buku, sepedaku mengalami masalah, beberapa kali “nggepok” (bahasa Indonesianya apa yah?). Aku perbaiki, lalu jalan, namun nggepok lagi. Seorang warga di Jalan Pakualaman membantu memperbaiki sepedaku, jadi, terus aku gowes lagi, baru sebentar namun nggepok lagi. Aku perbaiki di bengkel pinggir jalan, jadi, aku gowes lagi, aman cukup lama. Sampai di Taman Pintar masih aman. Sampai Kotabaru masih aman... melewati UKDW, masuk Jalan Kusbini, sepedaku hancur, roda belakang berubah jadi angka 8. Aku tuntun, sampai penjual rongsok aku jual, hanya laku Rp. 15.000 (satu roda yang masih waras aku bawa pulang). Aku jalan kaki sampai halte, naik Trans Jogja, turun di toko sepeda, aku beli sepeda Polygon warna orange seharga Rp. 1,7 juta.

Mari ke cerita yang lebih menarik...

Kini aku semester enam di UIN Suka, jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam. Binis jualan onlineku kini telah memperlihatkan wajah cerah nan sumringah. Indah sekali. Kini aku merekrut dua teman bagian packing, satu teman bagian logistik, dan aku sendiri juga ikut turun di logistik (selain promosi di online). Aku memiliki belasan reseller di berbagai daerah, beberapanya cerdas dalam marketing online sehingga cepat mendatangkan pelanggan yang transfer. Jumlah reseller yang banyak itulah yang membuatku banjir order dan cukup kewalahan. Maka dari itu kini aku sudah meminta bantuan beberapa teman untuk menangani “masalah” ini. Kini, setiap minggunya ada orang yang mau mendaftar jadi reseller, jika diterima semua, tentu aku akan sangat kewalahan. Paling, pembukaan pintu reseller (dan info lengkapnya) hanya aku lakukan 1 atau 2 bulan sekali. Bila nanti sudah “penuh” maka aku tidak membuka lowongan reseller lagi. Bila nanti sudah masuk reseller-reseller baru, aku mensyaratkan pada mereka minimal 1 minggu sekali melakukan 1 transaksi/pembelian buku (jika tidak tercapai, maka akan diganti reseller baru). Ini termasuk syarat yang mudah, meski begitu, bagi pemula mungkin susah. Aku akan membimbing mereka (reseller) yang merasa masih awam di marketing online (khususnya yang produk buku). Aku sendiri sehari bisa menjual 25 buku, kalau aku syartakan reseller laku satu buku dalam satu minggu: pasti bisa lah. Dalam prosesnya mereka (reseller) tentu akan bisa lebih produktif lagi.

Nah, ibaratnya, bulan depan aku memiliki 20 reseller (Maret 2016), misal rata-rata reller 1 hari laku 2 buku, berarti total resellerku dalam sebulan “menyumbang” penjualan sebanyak 1200 eksemplar buku. Aku sendiri “menyumbang” penjualan 750 eksemplar. Berarti total semua penjualan buku yang aku torehkan dalam sebulan adalah sebanyak 1950 eksemplar. Maka target omzet 100 juta per bulan dalam tahun ini, insyaAllah akan tercapai. Aku mesti membangun sistem yang lebih baik lagi, mesti belajar lagi, mesti membina reseller pemula dengan telaten, dan mesti melakukan tindakan-tindakan positif lainnya.

Mari bicara yang lain lagi...

Beberapa resellerku adalah orang-orang keren, orang-orang berprestasi, orang-orang ternama, namun aku kurang enak kalau mau mengekspos mereka. Intinya aku berterima kasih pada mereka. Atas kerja sama ini, omzetku jadi meningkat pesat. Yang lebih penting tentunya, kita bisa mendistribusikan buku-buku bermutu ke berbagai pelosok negeri, bahkan kita juga sampai kirim buku ke Singapura, Taiwan dan Hongkong. Meski dalam tulisan ini aku banyak bicara angka-angka dan omzet, namun sebenarnya jualan buku bukan cari keuntungan belaka, sebagaimana aku mengawali jualan buku ini tanpa berharap pun dapat keuntungan yang berlimpah-limpah. Dulu, puluhan kali, ratusan kali, sampai ribuan kali aku promosi namun hasilnya lebih banyak diabaikan orang: aku tak kecewa, aku tetap istikomah promosi buku. Bagiku, jualan buku adalah salah satu andil dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Biarlah penulis-penulis cerdas fokus menghasilkan karya yang gemilang, dan aku bagian kerja dalam menyebarkan karya bagus penulis-penulis cerdas itu. Sangat sayang, bila banyak buku bagus hanya teronggkok di toko, tak ada yang menjamah, tak ada yang membaca (tak ada yang membeli).

Mari bicara yang menarik lagi...

Rentang 26 Januari sampai 1 Februari aku telah menjual sebanyak 59 eksemplar novel Hujan karya Tere Liye. Tadi pagi, aku mengirim beberapa paket buku, salah satu tujuannya ke Jawa Timur. Pelangganku ini membeli sekitar 65 buku, saya kasih dua buku bonus. Nilai transaksi darinya seorang sekitar Rp. 4 juta. Aku ucapkan terima kasih sekali untuk pelangganku yang cantik nan baik ini, semoga rezekimu semakin lancar (biar bisa borong buku lagi. hehe). Semoga buku-bukunya bermanfaat.

Mari, bicara yang lain lagi...

Kenapa aku semangat sekali jualan buku? Sebabnya ini passion-ku, ini bidang yang aku kuasai, ini bidang yang telah aku pelajari (nyaris setiap hari) selama tiga tahun lebih. Kenapa aku membuat target omzet yang tinggi? Karena dengan pendapatan yang tinggi itu bisa aku gunakan untuk bayar kuliah dan biaya hidup sehari-hari di tanah rantau, dengan pendapatan itu pula bisa aku alokasikan untuk membiayi sekolah adikku dan membantu orangtua. Sudah wajar aku berusaha mencari penghasilan yang “layak” sebab aku sudah dewasa. Aku tak berharap warisan dari orang tua (karena orang tuaku tak punya banyak harta). Aku bekerja keras demi masa depan. Aku ingin beli tanah dan membangun rumah. Sekali lagi, aku tak berharap warisan orangtua, yang paling aku harapkan dari orangtua adalah doa-doa kebaikan dari mereka.

Kemiskinan keluargaku adalah cambuk bagiku untuk berjuang dan bekerja keras-cerdas-ikhlas-tuntas. Kau tahu? Sudah cukup lama rumah keluargaku dalam keadaan nyaris roboh (kabarnya sekarang sedang direnovasi). Rumahku di kampung adalah rumah yang “bodol”, hanya beralas tanah, dinding bambu, atap belakangnya dari welit. (Aduh, kok aku jadi ngelantur ke sini. Hehe). Tapi, semoga ini jadi cermin buat teman yang lain agar lebih bersyukur... Mungkin ini bisa jadi cermin buat yang lain untuk bisa lebih “berprestasi” dariku, sebab dalam kondisi keterbatasan ini aku sudah sedikit membuat capaian-capaian yang bagus... Pasti teman-teman yang lain punya peluang lebih besar lagi...

Pagi tadi, pukul 08.55 aku jalan kaki menuju halte, menggendong tas yang genduk penuh muatan dan menenteng kardus berisi buku. Aku naik halte, namun bus sudah jalan 60 detik yang lalu. Yah, harus nunggu 20 menit lagi. Aku dapat bus kedua, jalan... Turun di Halte Giwangan aku merasa agak pusing. Lantas aku beli dan minum Tolak Angin. Aku tanya ke Petugas Efisiensi. Katanya bus ke Cilacap berangkat jam 11.00, yang jam 10.00 sudah lewat, aku lihat jam sekarang pukul 10.03. Untuk pemberangkatan berikutnya masih lama. Aku duduk di bangku panjang sambil berpikir-pikir. Aku juga merasa badanku benar-benar kurang fit, kepala agak pusing. Sepertinya aku tak sanggup menempuh perjalanan jauh. “Coba tadi aku tak ketinggalan trans, pasti di sini sampai lebih cepat dan tak menunggu Bus Efisiensi satu jam lamanya. Kalau tak menunggu satu jam, aku mau mudik ke Cilacap sekarang (meski agak pusing), tapi kalau satu jam nunggunya, lebih baik aku tunda dulu mudiknya,” itulah sebagian yang berkecipak di benakku. “Tapi rasanya aku benar-benar kurang sehat. Oya, kemarin kan aku benar-benar kerja keras, dari pagi sampai malam sibuk kirim-ambil-angkut buku. Bahkan malamnya hujan-hujanan tanpa pakai mantel dan payung,” ujarku lagi, dalam gumam. Akhirnya aku mantap untuk menunda mudik (daripada terlunta-lunta di jalan).

Aku butuh istirhat. Dan aku sempatkan mengetik sebuah cerita ini... Semoga bermanfaat.

Yogyakarta, 2 Februari 2016

Harapan dan Konsekuensi Cinta

Maafkanlah aku yang telah mencintaimu. Bila ini lancang; bilanglah. Aku akan memanajemen ulang sikap dan perasaanku. Bukan berarti aku akan berbalik membencimu. Setiap manusia sudah semestinya saling mencintai. Namun semua ada batasannya. Aku mencintaimu sebatas sahabat bila tak boleh lebih mencintai sampai tingkat 'kita saling memiliki'. Ada sepotong kalimat yang berbisik dari bilik hatiku, "Aku tak bisa membohongi diri sendiri bahwa hatiku telah memilihmu." Ada yang menyahut, "Ah, pernyataan tadi sepertinya jujur. Namun hati itu selalu mudah goyah. Hati mudah diombang-ambingkan oleh situasi. Apakah keyakinanmu sudah benar? Atau nanti pernyataan hatimu bisa menjadi kadaluarsa?"

Ya, aku memang berharap. Namun harapan yang tak bersambut kerap menorehkan kecewa. Karena soal klasik ini, aku siap untuk tidak kecewa. Aku berharap, namun tidak memaksa. Aku mencintaimu dengan istimewa. Aku pun berharap kau memiliki rasa yang sama. Bila tidak, aku tak memaksa, aku tak kecewa. Aku selalu berusaha ikhlas menyikapi problema hidup ini. Pada hati yang ikhlas ada ketenangan, kedamaian dan kebahagian yang memukau.

Kau bahagia dengan pilihanmu, aku rela. Aku tak boleh iri. Aku tak kan membenci keputusanmu yang wajar. Membenci sama saja menyakiti diri sendiri. Berusaha merusak harmonisasi kehidupanmu berarti aku sedang merusak hidupku—yang sebenarnya bisa berjalan lebih indah. Kalaupun wajar membenci, tak kan kulakukan. Membenci seperti halnya mengiris-iris hati sendiri. Terluka dan sakit sendiri sementara yang dibenci tak merasakan. Aku mencintaimu, meski kau pernah tahu(?) Aku tak peduli. Biarkan alam-semesta yang membahasakan perasaanku padamu, biarkan ia yang mengabarkan pesan hatiku. Ia pasti jujur. Ia pasti bisa lebih dipercaya dan meyakinkan dari kata-kataku.
***


Jogja, 26-27 Agustus 2014

Beasiswa ke Luar Negeri

Beasiswa Studi ke Luar Negeri
Oleh Amin Sahri

Aku punya adik enam. Adik pertama (Amanah) dan kedua (Hari) hanya disekolahkan sampai lulus SMP. Kendala biaya yang jadi sebabnya. Adikku yang ketiga (Anam) nasib studinya lebih baik. Anam sempat vakum studi satu tahun setelah lulus SMP. Menjalani masa libur panjang itu ia bekerja sebagai loper koran. Keberuntungan sedang memihaknya, saat masuk SMA ia mendapat beasiswa sampai dari Ketua Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Pusat, Taufan Eko. Adik keempatku Rofi, kelima Nia, keenam Faiq.
Tahun ajaran baru ini Anam telah diterima di SMA Negeri 1 Cilacap (SMA terfavorit di kota kami). Ia alumuni SMP Negeri 1 Kawunganten. Seingatku, dari semester 1 sampai 5 ia hanya mampu meraih rangking 2 di kelas. Sebagai kakak kandung, aku pun kerap memotivasi dan mengarahkannnya dalam belajar—dengan caraku yang “agak keras”.
Memasuki semester 6, aku membelikannya buku persiapan menghadapi Ujian Nasional yang terbaik. Aku pun mengarahkannya bagaimana cara belajar efektif, memberikan petunjuk untuk“menggunakan” dan “menggarap” soal-soal yang ada di buku tersebut. Aku juga berjanji pada adikku yang meraih rangking terbaik akan diberikan hadiah.
Saat pengumuman kelulusan, Anam berhasil menduduki peringkat 1 di kelasnya dan rangking 3 paralel dari 7 kelas yang ada. Sebelum mendaftar dan diterima di SMA Negeri 1 Cilacap ia mau kerja jadi loper (aih, aku jadi teringat lagunya Iwan Fals: Sore Hari di Tugu Pancoran). Aku membimbing dan mengarahkannya. Mungkin ia tak “setegar” Budi yang dideskripsikan Iwan Fals namun aku salut padanya. Pagi sampai siang ia meloper. Sempat beberapa bulan pada sore harinya ia kerja di toko perlengkapan olahraga. Pernah juga, seusai meloper ia jualan es degan. Itu atas inisatifnya sendiri.
Kini aku akan membimbingnya menjadi siswa yang paling berprestasi di sekolahnya. Baik diakademik maupun non-akademik. Aku yakin ia punya potensi itu. Agar potensinya “termanfaatkan”, tereksplor secara maksimal maka aku akan terus mengarahkannya dan memberikan saran-saran progresif. Aku bertindak sebagai “pelatihnya”.
***
Aku akan “mengawalnya” agar ia selalu berada di jalur kesuksesan studi, lulus SMA dengan prestasi yang membanggakan dan diterima di Perguruan Tinggi Negeri terbaik dengan beasiswa. Lalu, sukses mendapat beasiswa studi ke luar negeri. Sejarah itu harus diciptakan. Harus ada warga desa kecil di ujung selatan kecamatan Kawunganten yang bisa dan sukses studi di luar negeri. Kita musti bertindak progresif. Semoga ini menjadi inspirasi agar ke luar negeri bukan hanya bisa ditempuh dengan mendaftar sebagai TKI. Semoga banyak pemuda desa kecil bernama Babakan yang bisa menempuh studi sampai ke luar negeri. Setelah pulang mereka akan membangun dan memakmurkan desanya. Seperti Bung Hatta dkk yang studinya sampai ke daratan Eropa, pulangnya mereka “memerdekakan” Indonesia. Membangun dan memajukan Indonesia.
Sampai di sini barangkali ada tetanggaku yang setuju dengan pemikiranku. Mungkin ada juga yang sempat tertawa atas mimpiku yang kelewat batas: wong neng ndesa umahmu be arep rubuh koh koe nggedebrus. Hahah. Apapun responnya, akan aku terima dengan “terima kasih”. Keadaan separah apapun tak kan menghentikan obsesi dan ambisiku. Perlahan-lahan aku konkritkan targetku.
***



Aku akan “mengawal” agar adikku selalu berada di jalur kesuksesan studi, lulus SMA dengan prestasi yang membanggakan dan diterima di Perguruan Tinggi Negeri terbaik dengan beasiswa. Lalu, sukses mendapat beasiswa studi ke luar negeri. Aku mengajaknya agar ia bisa menjadi seorang yang visioner. Punya target, aksi nyata, bertindak progresif dan berfikir futuristik. Aku giring dia untuk membaca karya-karya berkualitas, semisal trilogi Negeri 5 Menara. Aku transferkan pengalaman dan hal-ihwal tentang masa-masa di SMA dan kuliahan. Aku arahkan ia agar “mengenal” teman-temanku yang berprestasi. Teman-temanku di sosial media yang punya banyak prestasi dan keahlian aku pantau sejak SMP, SMA dan masuk kuliah aku pahami pemikirannya, tindakannya dan kekreatifannya lalu aku transferkan ke  benak adikku. Aku yakin semua akan berujung sukses.
Tuhan, inilah bagian dari proposal hidup kami. Kami akan memperjuangkannya. Tolong di-ACC ya. Terima kasih. (*)



Jogja, 15 Juli 2014
Write here, about you and your blog.
 
Copyright 2009 Menulis dan Mengekalkan Kenangan All rights reserved.
Free Blogger Templates by DeluxeTemplates.net
Wordpress Theme by EZwpthemes
Blogger Templates