RSS
Tampilkan postingan dengan label OPINI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label OPINI. Tampilkan semua postingan

SYARAT GABUNG RESELLER UP DATE 25 JANUARI 2017

SYARAT GABUNG RESELLER UP DATE 25 JANUARI 2017
.
Biasanya, salah satu sayarat gabung reseller adalah membayar biaya pendaftaran sejumlah Rp. 100.000. Tapi untuk kali ini, kami GRATISKAN. Namun, tidak semua yang daftar kami terima. Ada beberapa pertanyaan/instruksi dari kami yang HARUS ANDA JAWAB, sebagai pertimbangan kami untuk menerima Anda.

11.      Mengapa Anda tertarik menjadi reseller buku?
22.      Bagaimana cara Anda jika nanti memulai mempromosikan buku?
33.      Organisasi apa saja yang saat ini Anda ikuti dan anda menjabat sebagai apa?
44.      Anda kuliah/bekerja di mana? (Sebutkan jurusan atau bagian kerja Anda)
55.      Berapa jumlah teman FB, kontak BBM, follower Instagram, Twitter dan akun sosmed yang lainnya yang Anda miliki?
66.      Apa alamat email Anda?
77.      Prestasi apa yang pernah Anda raih?
88.      Sebutkan minimal 5 penulis yang karyanya paling bagus menurut Anda?
99.      Infokan data diri Anda: nama, alamat lengkap dan no. HP
.
Setelah kami membaca semua jawaban calon reseller, kami akan memilih 40 reseller saja. Jika ada yang tidak lolos, boleh mendaftar lagi pada bulan Februari atau Maret 2017.

Bagi reseller yang berhasil diterima… kami memberi kesempatan selama 2 minggu untuk promosi dengan caranya masing-masing. Reseller yang selama 2 minggu belum bisa melakukan penjualan satu pun, akan kami LEPAS.
.

Barulah pada minggu ketiga kami mulai berbagi tips-tips agar JUALAN BUKU menjadi LARIS.

1. Tips Menentukan Kendaraan yang Dipakai

101 TIPS HEMAT UNTUK MAHASISWA JOGJA

1. Tips Menentukan Kendaraan yang Dipakai

Dalam hal berkendara, mahasiswa sebaiknya lebih megutamakan memakai sepeda dari pada naik motor. Jogja kini mulai macet (walau tak separah macetnya Jakarta). Banyak kendaraan bermotor di jalanan membuat polusi udara dan polusi suara. Jika kamu sering naik motor, berarti kamu sering menyumbangkan polusi dan ikut membuat kota jadi macet. Hehe.
Boleh lah naik motor untuk bepergian jarak jauh. Kalau jarak dekat, ya naik sepeda saja. Keuntungan naik sepeda, kita bisa sekaligus olahraga dan jika parkir tidak perlu bayar. Berbeda dengan naik motor yang biasa dikenakan tarif parkir dari Rp. 1.000 – Rp. 3.000. Seandainya sehari kamu parkir Rp. 3.000, dalam sebulan kamu keluar uang Rp. 90.000.
Seandainya sehari naik motor habis bensin Rp. 4.000, maka pengeluaran bensin sebulan sebesar Rp. 120.000. Bensin dan parkir motor sebulan Rp. 210.000. Kali setahun sama dengan Rp. 2.520.000 (dua juta lima ratus dua puluh ribu rupiah). Kalau dihitung-hitung, duit segitu bisa buat bayar kos satu tahun di daerah sekitar UIN Suka (Sapen, Gowok dan Papringan). Kosku, misalnya, di gang Sawit Ngentak Sapen, setahun cuma Rp 2 juta.
 Untuk mobilitas di sekitar kampus, usahakan naik sepeda atau cukup jalan kaki. Misal kamu dari fakultas mau ke Perpustakaan, mau ke Student Center, mau ke Kopma, mau ke Pusat Bahasa, dsb. Paling gerak cuma 100-500 meter, jalan kaki lebih sehat dan bisa buat bakar lemak. Haha. Jangan borosan banget, dikit-dikit naik motor. Sayangi lingkungan kampus dengan meminimalisir asap kendaraan bermotor, lah.
Jika memang perlu gerak cepat, ya bisa lari. Lari perlu lho, yang penting tidak lari dari kenyataan. Kenyataan jomblo, misalnya. Ups! “Aku tidak bakat lari,” katamu. Kalau kamu bukan perempuan, berarti itu cuma alasan yang dibuat-buat. Tidak apa. Bisa lah, pinjam sepeda onthel temanmu. Agak ribet ya? Ya, tak apa. Anggap saja, ini untuk menjalin kedekatan interaksi antar teman. Saling join gitu.
Hal menarik tentang sepeda kampus sudah terlaksana di UGM. Beberapa kali aku main ke sana, lihat, di sana banyak sepeda yang disediakan kampus untuk dipakai gratis para civitas akademika kampus. Cuma dipakai di kampus lho, ya. Bukan buat dibawa pulang dan dikandangin di rumah. Hehe. Eh, tapi aku pernah lihat juga, beberapa mahasiswa UGM juga pakai sepeda kampus untuk pergi ke toko buku (sistemnya, mereka lapor dulu ke petugas yang menangani bagian itu).
Lalu, jika akan pergi ke suatu tempat bareng-bareng teman: jangan boros bawa motor. Misalnya mau nge-AC ke Lippo Plazza, nonton bioskop yang murah, main ke perpustakaan kota, diskusi di warung kopi, seminar di kampus tetangga, makan di angkringan, dsb. Kalau bareng-bareng berangkatnya, dua anak cukup satu motor. Bila perlu, tiga anak satu motor, kalau temanmu kurus-kurus dan jika itu tidak dianggap sebagai tindakan pelanggaran, ya. Haha.
“Loe ngomong aja, gampang! Praktekin sendiri, dong!,” katamu protes. Duh, duh. Anggap saja ini, sharing, kawan. Haha. Aku sudah biasa jalan ke tempat-tempat radius jauh-dekat cukup naik sepeda. Misalnya, main ke toko buku SAB Ambarukmo, aku cukup gowes. Tidak perlu bayar parkir. Hemat!
Pernah pula aku mau main ke bioskop (satu tahun yang lalu) sama seseorang (bukan laki, lho). Kalau dia mau, aku mau ajak dia naik sepeda, kalau perlu dia bonceng aja. Biar? Biar sepedanya jalannya jadi pelan, kan jadi agak romantis gitu. Kebersamaan kita di jalan jadi terasa lebih lama dan kita bisa ngobrol dari hati-ke-hati lebih lama. Meski harus keluar energi buat gowes, tak apa. Yang penting ada teman penyemangat. Peluh yang menetes dari dahi dan pipi akan tersapu segar oleh sepoi angin sore. Eh, tapi dia udah duluan berangkat, langsung ke tempat, naik motor. Hoho.
 (Bersambung ke Tips kedua, ketiga dst)


Jogja, 16 Desember 2016

Kolaborasi Kekayaan dan Kecerdasan

Kolaborasi Kekayaan dan Kecerdasan
Oleh Amin Sahri

Lebih dari 7 tahun yang lalu, aku menyaksikan tayangan TV tentang teknologi pertanian di berbagai negara. Salah satunya di Amerika Serikat. Di sana, benih padi di sebar dari atas pesawat terbang. Dengan laju yang cepat, benih-benih padi itu terlempar dan jatuh tepat di lahan yang sangat luas. Saat panen, dilakukan dengan mesin yang sangat canggih. Hanya sedikit orang yang mengoperasikannya, rumpun-rumpun padi di sawah yang berhektar-hektar dalam waktu singkat dapat dikelola dengan satu mesin yang langsung menghasilkan gabah yang bersih.
Makna tersirat dari deskripsi ini, kemajuan pertanian suatu negara dapat tercapai dengan syarat: adanya kekayaan dan kecerdasan. Pesawat dan mesin-mesin canggih lainnya adalah barang yang berharga mahal. Hanya golongan kaya saja yang bisa memilikinya. Sedang pengoperasian alat/mesin, pengaturan atau pengelolaan lahan dan benih dibutuhkan ilmu yang kompleks (kecerdasan).
Pada konteks yang berbeda, ada kecerdasan yang tak didukung kekayaan. Indonesia punya putra bangsa yang super cerdas: Baharudin Jusuf Habibie. Beliau pernah mengajukan proposal dana 500 juta dolar AS untuk pembuatan pesawat N250 pada Presiden Soeharto kala itu, namun Soeharto tak bisa memenuhinya. Karena krisis moneter, Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN) ditutup. Karyawan IPTN bubar, banyak yang pergi dan bekerja di perusahaan pesawat terbang negera lain; di Brazil, Canada, Amerika Serikat dan Jerman. Anehnya, Indonesia pun mengekspor pesawat dari negara tersebut. Kalau kompetensi dan ide brilian BJ Habibie didukung sokongan dana yang memadai tentu Indonesia bisa memproduksi sendiri pesawat yang canggih dan beroleh keuntungan yang melimpah. Orang-orang Indonesia yang merupakan tenaga ahli pembuat pesawat terbang tak perlu sampai eksodus ke luar negeri. Cukup berada di negeri sendiri, dan memaksimalkan karya terbaiknya untuk kemajuan bangsa.
***
Kekayaan bisa diperoleh cepat dan pesat melalui wirausaha/berdagang. Sebagaimana Hadits Nabi SAW, "Hendaklah kalian berdagang karena berdagang merupakan 9 dari 10 pintu rezeki." Abdurrahman bin Auf yang semula miskin kala baru hijrah ke Madinah, dalam tempo yang tak lama dia menjadi orang yang paling kaya karena berdagang. Kekayaannya yang melimpah-ruah banyak disedekahkan untuk kepentingan umat.
Kecerdasan dapat diraih dengan belajar. Menempuh studi dari tingkat dasar sampai ke jenjang perguruan tinggi. Kecerdasan akan mengangkat derajat seseorang. Seperti pernah dialami Jamil Azzaini, semasa kecilnya hidup miskin dan berkali-kali dihina temannya. Bahkan ada temannya yang sampai melempar sebilah bambu yang membuat kepala Jamil kecil berdarah. Awal-mulanya Jamil kesal dan memukul teman yang telah menghina kemiskinannya dan mentertawakan cita-citanya yang ingin menjad iInsyinyur Pertanian. Berkat tekadnya, dia belajar sungguh-sungguh, meraih prestasi terbaik, dan mendapatkan beasiswa kuliah di Institut Teknologi Bandung(ITB). Kini dia berprofesi sebagai dosen, seorang trainer, pebisnis dan penulis buku. Sebutan Inspirator SuksesMulia melekat pada Jamil Azzaini.  Dia merupakan salah satu figur masa kini yang sangat berkontribusi kepada bangsa Indonesia. Dia telah mendirikan pondok pesantren wirausaha yang gratis bagi anak-anak dari keluarga miskin.
***
Kini, aku sedang berada di kampung halaman. Di desa Babakan, Kecamatan Kawunganten, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah. Sebagian kecil warganya sudah hidup sejahtera. Sebagian yang lain—termasuk keluargaku—berada di garis kemiskinan. Mata pencaharian utama adalah bertani. Mayoritas pemuda desaku bila sudah lulus SMP/SMA tujuan utamanya mencari kerja ke luar kota/luar negeri. Berwirausaha atau melanjutkan kuliah belum menjadi prioritas.
Seandainya, berwirausaha dan kuliah menjadi cita-cita favorit pemuda desa kami maka seiring bergulirnya waktu kekayaan dan kecerdasan akan memberikan dampak yang indah pada wajah desa. Tak ada lagi cerita jalan desa yang rusak, berlubang dan becek saat kena hujan. Kekayaan dan kecerdasan para warganya berperan dalam perbaikan jalan sebagai akses penting bagi mobilitas sosial dan ekonomi. Sawah yang jarang panen, lahan yang kurang subur bisa diselesaikan oleh alumni pemuda desa yang telah menjadi Insyinyur Pertanian. Susahnya mendapatkan air bersih dan permasalahan urgen lainnya dapat diatasi pemuda desa yang saling sinergi. Pemuda yang kaya mengucurkan dana guna mendatangkan alat/mesin yang modern. Pemuda yang cerdas bertindak mengoperasikan mesinnya dengan baik.
Berwirausaha adalah jalur strategis untuk menjadi insan yang kaya nan bermanfaat bagi masyarakat luas, terutama bagi desanya—yang sering diabaikan pemerintah. Studi sampai ke jenjang perguruan tinggi mesti ditempuh untuk menjadi pemuda yang cerdas, memiliki keahlian yang bisa diterapkan bagi kemaslahatan masyarakat. Meski kondisi kini masih miskin dan bodoh, cita-cita menuju ke 'sana' harus diperjuangkan. Pemuda desa punya kewajiban membebaskan belenggu kemiskinan dan kebodohan yang melanda desanya.
Ketika kekayaan dan kecerdasan berkolaborasi tentu juga akan memperkokoh dimensi spiritual dalam jiwa kita. Artinya, kita telah menggunakan dan memaksimalkan akal dan potensi yang telah Alloh berikan. Kita menjadi umat yang maju dan unggul. Mampu menciptakan karya dan membangun peradaban yang mulia. Dengan kekayaan dan kecerdasan kita bisa menjalankan hablumminalloh dan hablumminannas secara baik dan mudah. Kekayaan yang dimiliki bisa disalurkan untuk infak, sedekah dan membantu sesama. Karena ilmu yang menghunjam, kecerdasan yang melekat dalam diri manusia, urusan ibadah kepada Alloh jadi lebih tertata, termanajeman. Misal, pengelolaan sawah/pertanian didesa memakai andil kecerdasan, dipergunakannya alat-alat modern, metode yang terbaik, tentu warga desa yang muslim akan menepis alasan melewatkan sholat Zuhur dan Asar karena sibuk sekaligus susah bekerja di sawah.
***
Sadar pendidikan itu sangat penting, aku memutuskan melanjutkan kuliah. Kendati orang tua tak sanggup membiayai, aku tetap optimis bisa menyelesaikan kuliah dengan membiayai sendiri. Jiwa berwirausaha dalam diriku sudah ada sejak SMP. Saat SMA sudah menamatkan buku genre motivasi/entrepreneurship berjudul 7 Keajaiban Rezeki, karya Ippho Santosa. Buku itu membuatku semakin yakin untuk terjun di dunia wirausaha, alias tidak ingin bekerja sebagai karyawan yang serba diatur atasan dan dibatasi jadwal yang teratur (baca: monoton).
Awal masuk kuliah di jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta aku langsung berwirausaha. Apa? Jualan nasi rames. Selang beberapa pekan beralih jualan jajanan. Sempat juga jualan kaos kaki. Semua hasilnya belum memuaskan. Tak cukup untuk makan sehari-hari. Apalagi nanti untuk membayar SPP dan kos.

Ketika ujian tengah semester berlangsung aku berhenti jualan nasi rames, jajanan, dan kaos kaki. Aku ingin menyediakan waktu yang lebih banyak untuk belajar agar dapat nilai UTS yang bagus. Aktivitas usahaku beralih ke jualan buku via online—yang agak mudah, tidak repot. Semula postingan promoku di media sosial minim respon. Namun lama-kelamaan mendapat respon yang menggembirakan. Aku pun antusias menjalani bisnis jualan buku karena keuntungannya lumayan, terutamanya bukua dalah passion-ku. Menurutku, jualan buku bukan sekadar menghidupi diri sendiri. Namun juga suatu pengabdian, kepedulian, dedikasi dan profesionalitas. Mengirimkan buku-buku bermutu ke sepenjuru nusantara menjadi bagian keseharianku.



Sampai di sini, aku bercita-cita menjadi wirausahawan dibidang perbukuan.  Memiliki toko buku, penerbitan sekaligus media massa. Mungkin ini cita-cita yang terlampau tinggi dan ‘tak tahu diri’ mengingat kondisiku kini yang masih serba kesusahan. Selain membiayai kuliah sendiri, aku juga mesti sedikit membantu finansial 6 adikku agar orang tuaku di kampung tidak terlalu kedhereng. Di samping menginginkan kesuksesan pribadi, aku juga berharap adik-adikku, pemuda-pemuda desaku banyak yang bisa menempuh studi di kampus yang berkualitas. Pada tahap berikutnya menjadi insan yang cerdas, pebisnis yang handal dan mau sekaligus mampu memakmurkan desanya.
Semoga, aku, adik-adikku dan pemuda-pemuda di desaku banyak yang menjadi wirausahawan dan ilmuwan yang sukses. Begitu juga, semua pemuda di seluruh Indonesia. Aamiin. (*)



Cilacap, 30 Juli 2014
Write here, about you and your blog.
 
Copyright 2009 Menulis dan Mengekalkan Kenangan All rights reserved.
Free Blogger Templates by DeluxeTemplates.net
Wordpress Theme by EZwpthemes
Blogger Templates